Sisi Gelap Tinju: Pembunuh Otak Manusia Secara Perlahan

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 4 minutes

Sumber: Getty/Steve Marcus. Manny Pacquiao ketika melawan Yordenis Ugas di Las Vegas.

Umpanbalik.id – Hantaman keras di atas ring tinju mampu membuat seseorang bersorak, terkejut, senang, atau menjerit karena rasa sakit. Dua orang petinju profesional di atas ring sedang mempertaruhkan nyawanya di atas arena yang sempit. Dalam hitungan menit, penonton menyoraki jagoannya untuk bisa terus berdiri, tak peduli jika seluruh tubuh diselimuti rasa sakit. Bagaimanapun situasinya, petinju profesional harus mampu untuk selalu bangkit. 

Sasaran utama dari tinju adalah pukulan keras di kepala. Jordan dan peneliti lainnya di tahun 1997 telah memandang tinju profesional sebagai kunci utama kerusakan otak. Olahraga ini menginginkan seseorang untuk KO setelah mengalami benturan keras di kepala yang memicu kerusakan atau gegar otak sampai lawan tak sadar diri.

Pukulan keras di kepala, tubuh yang babak belur, gigi yang berdarah, tangan yang berderit ngilu, apakah baik-baik saja ketika ditonton dengan penuh suka cita? Bagi saya, olahraga tinju profesional adalah olahraga yang paling tidak masuk akal. Untuk apa menang ratusan juta jika tubuh malah banyak menerima dampak buruk dan tak mampu menikmati seutuhnya?

Muhammad Ali, jagoan rebel tinju profesional kelas dunia, telah menjalani karir gemilangnya. Penghargaan di mana-mana, nyaris tak pernah kalah, tinjunya selalu juara, namun menjalani masa tua dengan penyakit parkinson yang dideritanya. Penelitian membuktikan kegiatan kontak fisik yang melakukan benturan berulang akan sangat mungkin mengalami penyakit parkinson. 

Saat pembukaan Olimpiade London 2012, Muhammad Ali berdiri sebagai tamu kehormatan untuk menyulut api ke obor. Tangannya bergetar ketika memegang obor. Kondisinya tidak lagi prima akibat penyakitnya. Muhammad Ali tidak lagi mampu berjalan, tidak mampu berbicara, dan harus didampingi selama 24 jam. Benturan-benturan keras di kepala Ali saat berada di atas ring berkontribusi besar untuk memicu terjadinya penyakit parkinson.

READ  Tiger Woods: 10 Tahun Kehancuran Karir Legenda Golf

Muhammad Ali hanya salah satu dari sekian petinju profesional yang mengalami kerusakan otak, dan mengalami kematian. Manuel Velazquez mengumpulkan data tentang boxing injuries ketika temannya, Nebo, mengalami gangguan mental karena terlalu banyak terkena pukulan di atas ring. Mulai tahun 1890 sampai 2011, terdapat 1.876 petinju yang tewas langsung setelah cedera ketika berada di dalam pertarungan. Data berhenti, namun tidak dengan angka kematian yang akan terus berjalan.

Kematian terbaru dialami Jeanette Zacarias Zapata, seorang petinju profesional perempuan yang meninggal lima hari setelah bertarung di atas ring, pada bulan Agustus 2021 lalu. Rangkaian pukulan di kepala yang sangat keras dan tepat diselebrasikan sebagai poin tinggi untuk meraih kemenangan. Tinju ini disebut sebagai sebuah seni bertarung. Tetapi jika dilihat lebih dalam, justru ini adalah realita menyesakkan ketika seseorang harus mengalami koma atau kerusakan otak dalam jangka panjang.

Cedera yang disebabkan oleh tinju sulit diterka di permukaan. Jika olahraga lain seperti sepak bola, tentunya pemain yang sedang patah kaki tidak akan bisa bermain. Namun pada tinju profesional, dampak cederanya adalah proses tak terlihat di dalam sebuah kepala. Dalam sebuah presentasi Ted Talk dari dr.Steven Laureys, seorang direktur neurologist di University Hospital of Liege, Belgium, mengatakan bahwa otak manusia itu rapuh. Otak butuh banyak energi dan pembuluh darah kecil yang ada didalamnya tidak boleh pecah agar tidak menimbulkan kematian. Jadi, ketika otak diguncang dengan sangat keras, maka tentu itu akan menghancurkannya. 

Apakah ada cara untuk meminimalisir hal tersebut? Tentu saja ada. Olahraga ini masih eksis sampai sekarang, dan banyak orang menikmatinya. The World Boxing Federation telah menetapkan aturan untuk meningkatkan keselamatan para petinju. Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan secara rutin tiap tahun agar para petinju bisa melanjutkan pertarungan. Alat perlindungan diri ditingkatkan.

READ  OPINI: Rutin Berolahraga, Kok Bisa Sakit?

Headgear, pelindung gigi, sarung tangan, sabuk di pinggang, dan pelindung alat vital digunakan untuk melindungi para petinju. Menariknya, Greg Bishop menulis pernyataan berdasarkan penelitian Manuel Velazquez di New York Times pada tahun 2013. Petinju yang mati tidak sesering dulu, berkat peraturan keselamatan dan pengawasan medis yang lebih ketat. Namun, mereka tetap mati. 

Sejak tahun 1984, pelindung kepala atau headgear telah digunakan oleh petinju profesional demi keselamatan kepala. Namun, keputusan mengejutkan hadir dari AIBA (Association Internationale de Boxe Amateur) sebagai badan tinju dunia pada Olimpiade Rio 2016. Setelah lebih dari 30 tahun, AIBA membuat keputusan yaitu petinju profesional laki-laki tidak diperbolehkan untuk memakai pelindung kepala. Hal ini tentu jadi sebuah keputusan yang kontroversial.

Sebuah studi dalam Clinical Journal of Sport Medicine meneliti hasil dari keputusan AIBA dengan mengkaji dua skenario. Pertama, para peneliti membandingkan pertarungan di World Series Boxing (WSB) yang mana para petinju tidak menggunakan headgear dengan kompetisi AIBA yang menggunakan headgear dalam waktu tiga tahun. Dan para peneliti mengakui telah menemukan fakta bahwa melepaskan pelindung kepala dapat mengurangi risiko cedera otak dalam tinju dan jumlah pukulan kepala berkurang secara signifikan tanpa pelindung kepala. 

Mirisnya, memang pelindung kepala tidak mampu melindungi keselamatan otak seutuhnya dan hanya mampu mengurangi resiko cedera. Tetapi otak adalah hal paling vital dalam kehidupan manusia. Pukulan terus menerus akan menimbulkan guncangan pada otak dan tentunya mengubah struktur otak yang akan menyebabkan kerusakan. Maka dari itu, studi dari para peneliti selalu dilakukan kembali dan terus dikembangkan.

Studi lain yang ditulis dr.Andrew McIntosh dari Federation University Australia  menunjukkan hasil penelitian yang bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya. Dalam jurnal ini, data mendukung bahwa pelindung kepala berperan cukup besar untuk mengurangi resiko gegar otak dan cedera kecil. Pelindung kepala juga dapat mengurangi kecepatan rotasi perputaran kepala termasuk benturan pada rahang.

READ  OPINI: Yakin Main Basket Bisa Menambah Tinggi Badan?

Hasil studi tersebut berjalan selaras dengan pendapat dari dr.Steven Laureys, seorang neurologist yang mengatakan petinju tanpa pelindung kepala adalah keputusan yang buruk dan menyedihkan. Pelindung kepala akan memperlambat rotasi perputaran kepala akibat pukulan keras. Dengan begitu, cedera tentu akan lebih lambat terjadi jika menggunakan pelindung kepala.

Ketika berhasil memukul kepala atau membuat KO lawan, maka poin kemenangan terbuka sangat lebar. Sedangkan otak adalah sesuatu yang sangat fragile dan penting. Sepantasnya, jika ingin olahraga ini diteruskan, ubah peraturan tentang poin pukulan di kepala, dan buat olahraga ini jauh lebih aman dengan improvisasi alat pelindung yang lebih baik. 

Karena, tidak ada olahraga yang layak disandingkan dengan kerusakan otak manusia.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

2 Komentar

agam_ray · Jumat, November 26th, 2021 pada 08:16:16

Wah ngeriiiik bgt

    Sahwahita · Senin, November 29th, 2021 pada 16:21:55

    Bener banget, Sobat Sport. Harus ekstra hati-hati ya, kalau melakukan olahraga ini.

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait