Mengenal Nomor Klasifikasi Atlet Difabel di Peparnas XVI Papua 2021

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 4 minutes

Sumber: Tribun Jabar/Gani Kurniawan. Saat Ridwan Kamil melepas kontingen Jawa Barat ke Peparnas Papua XVI 2021.

Umpanbalik.idAjang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI Papua jadi kompetisi yang paling ditunggu setelah PON XX Papua 2021 dilaksanakan. Di Peparnas XVI Papua 2021, para atlet disabilitas akan menunjukkan kemampuan terbaiknya agar bisa melangkahkan prestasi menuju kompetisi yang lebih besar. Peparnas akan menjadi wadah utama yang dijadikan para atlet difabel untuk memuaskan diri sendiri, dan mengukir prestasi demi semua pihak yang berkontribusi.

Peparnas XVI Papua ini masih menjadi rangkaian dari diadakannya PON XX Papua yang telah diadakan beberapa minggu lalu. Nantinya, Peparnas XVI Papua akan dilaksanakan mulai 5-15 November 2021. Saat ini, keyword Peparnas XVI Papua juga telah trending di Twitter Indonesia.

Atlet penyandang disabilitas akan mewakili 34 provinsi Indonesia dan akan ada 12 cabang olahraga yang dikompetisikan. Diantaranya ada atletik, angkat berat, boccia, catur, bulu tangkis, judo, panahan, renang, sepak bola cerebral palsy, menembak, tenis meja, dan tenis lapangan kursi roda. Dilansir dari situs resmi Kemenpora, para atlet disabilitas yang akan bertanding telah diseleksi secara ketat sesuai dengan syarat dan kategori untuk mengikuti pertandingan.

Sesuai dengan aturan IPC Athletic Rules, ada empat klasifikasi utama dalam Peparnas XVI Papua, yaitu tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, dan tuna rungu wicara. Agar peserta dapat mengikuti pertandingan, diperlukan juga bukti pendukung yang berupa laporan resmi pemeriksaan medis dari dokter atau rumah sakit sesuai dengan kondisi fisik masing-masing. 

Lalu, sama seperti kompetisi atlet difabel lainnya, terdapat juga penggunaan kode tertentu dalam setiap cabang perlombaan. Kode ini merepresentasikan klasifikasi khusus sesuai dengan kondisi fisik atlet dengan standar internasional.

READ  Serba Serbi Printilan Transfer Pemain Sepakbola

Alasan diberikan nomor sesuai klasifikasi ini adalah untuk mengelompokkan atlet yang berkompetisi sesuai dengan kondisi tubuh dan keterbatasan aktivitas masing-masing, agar terciptanya elemen penting di olahraga yaitu aspek fair play. 

Dalam hal ini, IPC mempunyai syarat yang kompleks untuk menetapkan kualifikasi. “Kalau sekarang klasifikasinya sudah sangat detail. Screening terperinci ini dilakukan agar perlombaannya setara. Tidak bisa kan, misalnya yang amputasi tangan bertanding dengan yang amputasi kaki,” ucap Senny, ketua NPCI kepada CNN Indonesia.

Cabang Atletik

Pertandingan atletik akan diadakan di Stadion Utama Lukas Enembe, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura. Kode khusus untuk atletik mengacu pada cabang lintasan Track and Field dengan nomor sebagai berikut:

Kelas T/F11 digunakan untuk atlet yang mempunyai kondisi tidak mampu menangkap cahaya ketika diberi rangsangan cahaya pada waktu tertentu dan tidak memiliki kemampuan untuk mengenali bentuk tangan pada jarak dan arah manapun.

Kelas T/FI2 digunakan untuk atlet yang memiliki ketajaman pandangan sepanjang dua meter sesuai dengan hasil dari alat ukur optik snellen dan hanya memiliki bidang pandang kurang dari 20 derajat. Untuk atlet difabel yang masuk dalam kualifikasi nomor T/F11 dan T/F12 bisa didampingi oleh guide runner.

Kelas T/F13 digunakan oleh atlet yang memiliki ketajaman pandangan terbatas sampai enam meter dan memiliki bidang pandang kurang dari 20 derajat. Lalu, untuk kelas T/F20 digunakan oleh atlet tuna grahita atau keterbelakangan akibat perkembangan otak secara tidak sempurna.

Kelas T/F35 – T/F38 diperuntukkan untuk atlet difabel dengan kondisi tubuh yang memiliki kekejangan tertentu mulai dari kejang ringan sampai berat pada separuh tubuh atau tiga anggota badan, bisa berjalan sendiri, dan memiliki masalah kontrol pada kaki dan tangan.

READ  Kata Netizen, PON XX Papua 2021 Malah Jadi Sebuah Dagelan

Kelas T/F40 – T/F41 diperuntukkan sesuai dengan panjang lengan dan tinggi badan. Ada juga Kelas T/F42 – T/F47 untuk peserta yang memiliki kemampuan menggerakkan tubuh tanpa alat bantu. 

Terakhir, kelas T52 – T54 yang ditujukkan untuk atlet yang menggunakan kursi roda dan Kelas T/F+54 khusus bagi atlet tuna rungu.

 

Cabang Boccia

Boccia adalah cabanag olahraga yang didesain untuk penyandang cerebral palsy. Olahraga ini merupakan olahraga ketepatan dengan cara melempar bola. Di Peparnas XVI Papua, juga dibagi dalam beberapa nomor kelas.

Kelas F55, F56, F57 ditujukkan untuk atlet yang memiliki kondisi khusus pada kedua kaki mereka. Boccia dapat dilakukan secara perorangan dan berpasangan. Lalu, kelas lainnya adalah Kelas BC1 – BC5 yang meliputi lima nomor perorangan dan berpasangan. Aturan ini disesuaikan dengan aturan resmi dari Boccia International Sport Federation.

 

Cabang Bulu Tangkis

Untuk cabang olahraga bulu tangkis peraturannya mengacu kepada Badminton World Federation khusus paralimpik.

Kelas WH1 dan WH2 digunakan oleh atlet pengguna kursi roda. Kode skala 1-5 dikhususkan untuk kelas Standing Lower, yang mana semakin tinggi angka skala SL, maka berarti artinya makin kecil keterbatasan fisik atlet.

Lalu, ada juga kode U berskala sama yang merupakan kode untuk kelas Upper. Dan ada kelas Short Stature (SS6) yang diperuntukkan bagi atlet yang mempunyai kondisi perlambatan pertumbuhan tulang yang menyebabkan tinggi tubuh jadi lebih kecil.

 

Cabang Catur

Kode kelas khusus catur adalah B1 – B3 untuk atlet tuna netra yang berkompetisi di klasifikasi hambatan penglihatan. Kode ini juga digunakan untuk cabang olahraga judo tuna netra.

 

Cabang Menembak

Kelas klasifikasi ini disesuaikan dengan Buku Pegangan Teknis World Shooting Para Sport Edisi 2019 dan dianut oleh NPCI untuk Peparnas Papua. 

READ  Beban Mental Psikologi, Jadi Penyebab Stress Atlet Esport Profesional

Kelas SH1 Pistol diperuntukkan untuk atlet yang memiliki kemampuan gerak tubuh di bawah 25 persen dan maksimal gerak 50 persen. Semua atlet dalam cabang olahraga ini akan menerima alat bantu meja untuk tempat senjata dan diperbolehkan untuk membidik senjata dari kursi roda atau bangku khusus.

Kelas SH2 ditujukan untuk atlet dengan kemampuan gerak 25 persen atau dibawahnya. Khusu kelas ini, penembak harus didampingi oleh petugas pengisi peluru dari tiap kontingen. Namun, ada aturan lagi yaitu petugas tidak boleh memberi instruksi apapun kepada atlet selama proses kompetisi berlangsung.

 

Cabang Renang

Untuk cabang ini dibagi dalam standing skala 13 (S13) untuk atlet yang mempunyai daya lihat baik dan visual tinggi. Untuk S14, ditujukan untuk atlet tuna grahita sedangkan S15 digunakan untuk atlet tuna rungu.

 

Cabang Tenis Meja

Atlet tuna daksa kursi roda dapat masuk di kelas 1-5 sedangkan kelas 6-10 untuk tuna daksa berdiri dan kelas 11 untuk tuna grahita.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait