Olahraga vs Si Perokok Aktif

Dipublikasikan oleh Olivia Annisa
Reading Time: 4 minutes

Umpanbalik.idSang perokok aktif dulunya seorang atlet, kondisi prima penuh energi adalah senjata jitu andalannya. Sejak menyentuh manisnya simpulan batang udud, membuatnya tak pernah lepas dari satu slop bungkus rokok dalam satu hari. Alhasil tubuhnya tak setegap dulu, rasa manis yang larut dalam lidah makin hari makin terasa candu. 10 batang rokok saja rasanya tak cukup menemani selingan hari, kebiasaan ini sepertinya mengubah kekokohan tubuh ayah yang dulunya seorang atlet voli dan kini terpaksa vakum total dari hobinya itu.

“Ayah dulu kuat keliling lapangan 25 putaran. Tapi sekarang.. rasanya tiga putaran aja sudah bengek,” begitu kata ayah saat duduk dengan nafas terhela.

Sayangnya dulu masa kejayaan ayah belum sempat kami abadikan. Sebab, ayah lebih dulu membuang kesempatan hanya karena sebuah kebiasaan kecil, yang saat ini dilarang keras oleh anak-anaknya. Apalagi kalau bukan rokok. Di umurnya yang beranjak ke 59 tahun, rokok menjadi musuh besar keluarga dan tak terhitung ribuan kali amarah selalu merujuk ke ayah. Pasalnya berbuih mulut menasehati ayah untuk tidak menyentuh rokok sepertinya tidak diindahkan. Kesempatan untuk melanjutkan pamornya di ranah olahraga pun harus berhenti. Selain itu kondisi ayah juga tak se-prima dulu saat menjadi spiker di tim volinya.

Si perokok aktif mulai tidak terbiasa dengan intensitas olahraga yang cukup tinggi, bahkan untuk berlari atau sekedar jogging nafasnya tak cukup kuat berlarian penuh tanpa jeda.  Memang badan ayah masih terlihat gagah dan perkasa, itupun didapatkannya saat melatih postur tubuh agar lolos mewakili tim provinsi saat masih muda. 

Namun, efek kebiasaan merokok cukup memengaruhi ia saat menjalankan aktivitas olahraga. Akhirnya ayah harus merelakan dunia voli karena terlalu asik dengan sebat sana sini. Menyeruput kopi sembari mengeluarkan permen kesayangan (dibaca: rokok) menjadi hal favorit bagi ayah, dalam sehari ia mampu menghabiskan satu setengah slop bungkus rokok.

READ  OPINI: Outfit Trendy dan Kebutuhan Instastory Ketika Jogging di Minggu Pagi

Dalam kasus ini tidak hanya ayah yang mengalami kesulitan mengatur pernapasan saat berolahraga, segelintir teman-teman saya yang sudah aktif merokok sejak SMA juga mudah mengalami kelelahan saat stretching jogging sebelum menjalankan mata pelajaran Penjaskes. Lalu yang menjadi pertanyaan apa benar ada korelasi antara kebiasaan buruk  merokok dengan aktivitas berolahraga?

Tahun 2008 WHO menyatakan kebiasaan seseorang yang merokok dan memiliki gaya hidup kurang aktif berolahraga akan menyebabkan peningkatan gejala penyakit jantung dan kronik lainnya. Menurut data prevalensi dari jurnal media.neliti.com, para atlet yang aktif merokok dari berbagai negara maju memiliki rentang rata-rata sebanyak 23 persen. Diantaranya berkiprah di cabang olahraga skateboarding, wrestling, dan tenis.

Fenomena di keseharian masyarakat mengartikan perilaku aktivitas berolahraga dapat mengimbangi kondisi fisik perokok, dan dapat menanggulangi dampak atau penyakit hasil dari kebiasaan merokok tersebut. Fenomena kondisi fisik perokok juga akan menunjukan rendahnya fungsi kardiorespirasi yang ditandai dengan berat badan cenderung berlebihan, otot tidak cukup kuat untuk bergerak dengan intensitas tinggi, olah gerak tubuh yang tidak fleksibel dan optimal, serta munculnya keterbatasan gerak sendi.

Olahraga dianggap sedikit memberikan pengaruh positif bagi si perokok aktif dengan   membantu menjaga dari serangan penyakit dan rehabilitas kesehatan atau kebugaran tubuh. Para perokok aktif tentunya memiliki sistem imun yang terkikis oleh zat kimia yang berbahaya dalam rokok. 

Sementara itu, latihan fisik dilakukan untuk meningkatkan kebugaran metabolik, kardiorespiratori, dan respon tubuh. Untuk itu, dibandingkan dengan para perokok aktif namun jarang melakukan gerak tubuh, para perokok aktif yang mengimbangi dengan olahraga selangkah lebih menjaga metabolisme imun dan fungsi organ tubuh.

Di sisi lain, resiko justru datang dari kebiasaan merokok bagi atlet ataupun pengolahraga. Memang benar olahraga dapat membantu memperbaiki kesehatan tubuh dan menjaga kebugaran tubuh perokok. Namun tetap saja, merokok dapat memberikan dampak negatif terhadap fungsi organ dan daya tahan tubuh. Bagi seorang atlet, merokok dapat memberikan efek buruk untuk performa atlet. 

READ  Kenapa Bulutangkis Jadi Popularitas Indonesia di Mata Dunia?

Efek negatif dari pengolahraga yang tetap membiasakan diri dengan kebiasaan merokok, akan mengalami penurunan daya tahan kardiovaskular, kemampuan sistem jantung, fungsi pembuluh darah, dan fungsi kerja paru yang memompa darah untuk menghasilkan energi yang disebar ke seluruh tubuh. Keadaan cepat lelah seperti fenomena para perokok ketika menjalankan aktivitas olahraga disebabkan oleh penurunan daya tahan kardiorespiratori. Bahkan lebih parahnya dapat menimbulkan sesak napas.

Kadar penurunan oksigen juga akan terjadi pada si perokok aktif. Umumnya para pengkonsumsi rokok akan memiliki kualitas jantung yang selalu bekerja keras memompa darah dan oksigen ke tubuh. Dengan mengonsumsi rokok juga dapat mengganggu fungsi kerja pembuluh darah, melemahkan kontraksi jantung, menurunkan suplai aliran darah, tak hanya itu, oksigen dan kandungan hemoglobin  yang tertuju pada otot dapat berkurang. Hal ini juga ditandai dengan otot yang tidak bisa digerakan secara intens, contohnya saat seorang perokok aktif berlari dengan intensitas waktu yang lama.

Kandungan nikotin dalam rokok  dapat menurunkan jumlah kalsium yang diserap oleh tubuh. Sehingga kalsium yang kurang akan mengganggu kepadatan tulang yang menentukan faktor elastisitas jaringan setiap sendi. Nikotin menyulut stimulan tubuh yang menyebabkan denyut jantung melampaui peningkatan produksi selama berolahraga. Permasalahan ini akan memunculkan resiko cedera pada atlet maupun pengolahraga. 

Anggapan bahwa olahraga dapat menghilangkan resiko dari merokok dibantah oleh Dokter spesialis paru Feni Fitriani. Menurutnya selama ini masyarakat hanya memandang rokok dapat menyebabkan kanker paru-paru saja. Padahal rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit lain. Banyak argumentasi yang simpang siur menanggapi perihal para perokok bisa hidup sehat hanya dengan menjalankan aktivitas olahraga tanpa mengubah kebiasan candu merokok.

READ  OPINI: Olahraga Harus Pakai Masker?

Faktor usia sedikit banyak menentukan fungsi kerja paru, kandungan berbahaya dalam rokok dapat mengikis organ penting akibat menumpuknya zat racun di dalam tubuh. Meski diselingi dengan olah tubuh, efek kandungan zat yang masuk kedalam tubuh tidak akan bisa terhalang dan pergi begitu saja. Sebab zat tersebut menetap dalam tubuh dan membutuhkan waktu lama untuk larut, kondisi larutnya pun akan membahayakan saluran jaringan sel tubuh. 

Merokok setelah berolahraga juga bisa sangat berbahaya dan lebih besar mendapatkan efek buruknya. Asap rokok mengurangi oksigen tubuh kemudian mengubahnya menjadi karbondioksida (CO2) yang berbahaya. Oleh karena itu, jantung membutuhkan kerja keras untuk memasok tubuh dengan oksigen yang dibutuhkan. 

Bagi paru-paru, asap yang masuk kedalamnya mempersempit udara yang ada di dalam paru-paru. Lebih parahnya asap rokok dapat memicu pembengkakan kronis selaput lendir dan membatasi saluran udara. Untuk itu, seorang perokok aktif sangat mudah sesak napas ketika melakukan pergerakan tubuh yang cukup berat.

Kebiasaan merokok dapat mempersempit udara yang ada dalam tubuh, sementara itu saat setelah berolahraga tubuh justru membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak. Ketika berada di kondisi lelah sehabis olahraga tubuh akan merespon dengan rasa lelah, merokok hanya akan memperburuk terjadinya kemungkinan efek yang tidak diinginkan. Tubuh yang lelah selepas berolahraga membutuhkan waktu pemulihan, merokok setelah berolahraga hanya akan menambah rasa lelah hingga linglung.

Berdalih menyehatkan tubuh dengan olahraga, namun tetap melakukan kebiasaan buruk dengan mengonsumsi zat berbahaya hanya akan membuang-buang waktu saja. Bukannya berinvestasi pada kesehatan tubuh, apa yang masuk kedalam tubuh justru jauh lebih berdampak negatif. 

Rokok memberi efek akut dan kecanduan, sayangnya efek buruk juga ikut menghantui. Sebelum berpikiran untuk melakukan olahraga dengan tujuan agar hidup sehat, cobalah terlebih dahulu memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuhmu. 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait