Muhammad Ridhuan: Legenda Arema dari Negeri Singa

Dipublikasikan oleh Muhammad Khoiruzzein
Reading Time: 3 minutes

Sumber: IG @tanjongpagarunitedfc, pertandingan terakhir ridhuan sebelum memutuskan gantung sepatu.

Umpanbalik.id – Bagi para Aremania, tahun 2010 menjadi tahun yang paling membahagiakan. Mampu tampil perkasa dan memukau di setiap pertandingan, menjadikan para pemain layak disanjung dan dijadikan panutan. Teringat jelas bagaimana Noh Alam Shah dengan instingnya mencetak gol ke gawang lawan hingga Pierre Njanka yang kokoh menjaga pertahanan. Bukan itu yang ingin diceritakan, melainkan kabar mengejutkan Muhammad Ridhuan yang memutuskan pensiun dari atas lapangan.

Sosok Muhammad Ridhuan mungkin masih melekat di hati para Aremania hingga sekarang. Bagaimana tidak, aksi-aksi cantiknya di atas lapangan mampu memukau para Aremania kala itu. Bersama kompatriot satu negaranya, Muhammad Ridhuan dan Noh Alamshah menjelma menjadi duo singapura yang menakutkan bagi lawan.

Profil Muhammad Ridhuan

Pemain asal Negeri Singa, Singapura ini memiliki nama lengkap Muhammad Ridhuan bin Muhammad. Lahir pada tahun 1984 silam menjadikan usianya saat ini sudah melewati usia emas bagi para pemain sepakbola. Dilansir dari situs transfermarkt.com, Muhammad Ridhuan merupakan salah satu pemain yang memiliki posisi versatile, yang bisa menempati beberapa posisi baik sebagai pemain bertahan, gelandang, ataupun penyerang.

Perjalanan Karir Muhammad Ridhuan

Muhammad Ridhuan mengawali karir profesionalnya pada tahun 2003 bersama klub Young Lions dari Liga Singapura. Dengan penampilan apiknya selama 4 tahun membela Young Lions, membuat ia mendapatkan tawaran dari klub papan atas Tampines Rovers FC. Kemudian di tahun 2009 ia bersama teman senegaranya memutuskan untuk hijrah ke luar negeri dan memilih pinangan dari tim Indonesia Arema Malang.

Disinilah karir Muhammad Ridhuan mencapai puncaknya. Bersama Noh Alam Shah dan 3 legiun asing lainnya berhasil mengantarkan Arema menjadi juara Liga Indonesia musim 2009/2010. Bertahan selama kurang lebih tiga tahun lamanya, Ridhuan akhirnya pindah ke Persisam Putra Samarinda dengan status pinjaman dari Arema.

READ  Rangkuman BRI Liga 1 Series 1: Bhayangkara Berkuasa, Tim Besar Seok Tak Berdaya

Tidak menemukan kembali performa terbaiknya, Muhammad Ridhuan akhirnya memilih untuk kembali ke negaranya. Kali ini giliran Geylang International FC yang menjadi tempat Pelabuhan selanjutnya. Hanya bertahan satu musim saja, Muhammad Ridhuan memilih untuk membela beberapa klub dari Singapura seperti Tampines Rovers FC, Warriors FC, dan yang terakhir Tanjong Pagar FC.

Prestasi Muhammad Ridhuan

Prestasi yang pernah ia raih ternyata tidak berasal dari negaranya sendiri, melainkan ada di Indonesia. Pada musim pertama ia memutuskan untuk hijrah ke luar Singapura. Muhammad Ridhuan terlihat cukup klop, dengan strategi pelatih Arema Malang kala itu. Hasilnya pun tak tanggung-tanggung, gelar juara ia persembahkan untuk klub kebanggaan Arek Malang tersebut. Bahkan, berkat aksi-aksinya diatas lapangan ia mendapat julukan Ronaldo-nya Arema lengkap dengan nickname MR6 sebagai plesetan dari CR7.

Dilansir dari indosport.com, Muhammad Ridhuan ternyata tidak hanya moncer di Arema Malang saja, ia juga memiliki karir cemerlang bersama Timnas Singapura. Dua gelar juara bergengsi yaitu Piala AFF 2004 dan 2007 pun ia persembahkan untuk negaranya.

Memutuskan Gantung Sepatu

Kabar mengejutkan datang dari Muhammad Ridhuan. Tepat di laga Tanjong Pagar United melawan Albirex Niigata dalam lanjutan Liga Singapura, Muhammad Ridhuan memutuskan pertandingan tersebut menjadi pertandingan terakhirnya dalam sepakbola. Namun, dilansir dari bola.com, ternyata ini bukan kali pertama ia menyatakan gantung sepatu dari sepakbola. Sebelumnya pada tahun 2018 ia juga sempat memutuskan untuk pensiun dari karir sepakbolanya.

Tetapi, Muhammad Ridhuan memilih untuk meralat ucapannya dan berhasil comeback di liga tertinggi singapura di usianya yang ke 36 tahun. Keputusan ini pun sempat menjadi sorotan media lokal Singapura. Hal tersebut juga bisa dimaklumi karena Ridhuan sendiri juga merupakan pemain dengan banyak prestasi dan menjadi langganan Timnas Singapura juga.

READ  Sang Legend Sir Alex Ferguson dan Permen Karet Mahalnya

“Dulu (2018) saya sempat pensiun. Tapi rasanya hati ini tidak kuat dan masih ingin berdansa di lapangan,” ucap Muhammad Ridhuan dikutip dari bola.com.

Muhammad Ridhuan memilih Tanjong Pagar United yang menjadi Pelabuhan terakhir karir sepakbolanya sepertinya bukan tanpa alasan. Kembali berkolaborasi dengan kompatriot nya di Arema yaitu Noh Alam Shah bisa jadi alasan kuatnya. Meski Noh Alam Shah sudah tidak menjadi pemain, tetapi kenangan indah yang terjadi pada masa lampau ingin ia raih bersama-sama kembali.

Pastinya keputusan gantung sepatu bagi Muhammad Ridhuan ini sangatlah berat. Namun bisa juga menjadi keputusan yang tepat. Dengan prestasi-prestasi luar biasa yang pernah ia dapat. Kelak Muhammad Ridhuan dapat kembali ke sepakbola menjadi pelatih yang hebat. Sekali lagi, Happy Retirement Muhammad Ridhuan!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait