Perempuan, Sepakbola, dan Negeri Islam

Dipublikasikan oleh Olivia Annisa
Reading Time: 3 minutes

Umpanbalik.id – Zahra Ghanbari, Sanaz Abazarnejad, dan Sara Ghomi adalah figur wajah wanita yang bergelut di dunia sepak bola wanita yang tampil dengan jilbab melekat di kepala. Sejak negeri Islam seperti Iran dan Arab Saudi memberi keleluasaan, sepak bola wanita dapat tampil di turnamen internasional yang membuat para pemain tak ragu mengeluarkan kemampuan mereka. 

Kabar baik ini ditambah dengan FIFA yang menyetujui aturan pemakaian jilbab bagi para pemain perempuan muslim. Berbeda di tahun 2007, di mana saat itu FIFA menolak mentah-mentah penggunaan jilbab bagi pemain perempuan. Meskipun telah memperbolehkan pemakaian jilbab bagi para pemain wanita, pihak FIFA tetap memberi keputusan mengenai model dua desain jilbab yang tak boleh mengancam keselamatan pemain. Adanya larangan itu diperberat dengan aturan terdahulu yang melarang penggunaan peralatan berbahaya atau kelengkapan pemain yang menampilkan simbol-simbol keagamaan saat berada dilapangan.

Akibat aturan itu, sepak bola wanita Iran sepakat membatalkan diri dalam laga kualifikasi untuk Olimpiade London dengan alasan larangan menggunakan jilbab. Kemudian, Arab Saudi juga tatkala menolak berpartisipasi dalam laga pertandingan kelas dunia itu, sebab aturan yang termuat.

Di lain sisi, dahulu kala Negeri-negeri islam ini juga  melarang adanya sepak bola bagi wanita, semakin bertambah tahun perizinan ini mulai diluncurkan. Namun, tetap saja bersama dengan aturan yang kaku dan kikuk. Aturan seperti ‘Pemerintah Iran hanya memberlakukan pembedaan berdasarkan jenis kelamin pada perempuan yang hendak menonton sepakbola’. Uniknya, perempuan Iran hanya boleh menyaksikan permainan sepak bola perempuan saja, begitu pula dengan laki-laki. Aturan dunia sepak bola di negeri Iran ini menjadi kurang menyenangkan lantaran adanya campur tangan politik yang menjadikan sepak bola sarat akan diskriminasi.

READ  Cerita Sepatu Converse All-Star: Terlahir Sebagai Passion, Bukan Fashion

Dari sinilah pemain sepak bola perempuan mengalami banyak ketidakadilan. Aturan dari FIFA yang tidak memperbolehkan adanya simbol-simbol religius dalam lapangan hijau yang tertuju pada sepak bola wanita negeri Islam, dianggap berbanding terbalik dengan aturan yang seharusnya juga tertuju bagi pemain laki-laki yang memiliki tato, gestur, dan nyanyian yang berhubungan dengan simbol religius lainnya.

Dari tahun ke tahun, perlawanan diskriminasi ini banyak di gaungkan oleh pemain wanita yang mengalami penolakan memasuki stadion. Dilansir dari Panditfootball, permasalahan diskriminasi ini kembali mencuat saat Sahar Khodayari, perempuan asal Iran di belenggu oleh aparat keamanan, sebab tak boleh memasuki Stadion Azadi dengan berpenampilan seperti laki-laki. Khodayari yang tak terima dijatuhi hukuman penjara, kemudian sengaja menyiram bensin ke tubuhnya dan membakar dirinya hidup-hidup. 

Perdebatan antara FIFA dan Iran semakin berada di titik singgung, Iran semakin kuat menerapkan aturan-aturan perihal sepak bola yang mengkotak-kotakan, pun demikian FIFA yang mengecam aturan-aturan dan aksesibilitas sepak bola bagi warga di sana. Akar permasalahan ini lama tak pernah dibenahi, hingga bermunculan berita pemain pria yang berpenampilan perempuan, atau penonton wanita yang berpenampilan seperti pria hanya untuk mengakses sepak bola.

Angin sedap mungkin belum secara menyeluruh datang bagi sepakbola di negeri Islam ini, namun di tahun 2019 kaum perempuan Iran mulai diperbolehkan memasuki stadion sepakbola tanpa harus memperhatikan siapa yang bertanding. Suara semakin bertambah dari tekanan dunia yang melihat kasus Khodayari, FIFA pun telah melemahkan aturan-aturan penggunaan jilbab saat di lapangan. 

Kemunculan permasalahan sepakbola dalam negeri Islam kian menambah stigma agama Islam yang suka memperdebatkan sepak bola. Padahal nyatanya hanya beberapa oknum yang memojokkan ketidakbebasan ini dalam titik abu-abu yang riskan untuk disetujui. Permainan yang dihubung-hubungkan dengan aurat dan jenis kelamin, nyatanya hanya berasal dari anggapan-anggapan yang ditunggangi. 

READ  5 Penjaga Gawang Dadakan Penghalau Terakhir Serangan Lawan

Tak usah jauh-jauh, di negeri sendiri liga sepakbola putri juga ditolak bagi kaum perempuan di sana. Dengan alasan yang sama, sepakbola di Aceh tak boleh bercampur antara pria dan wanita. Dikutip dari detik.com, para petinggi di sana menyarankan adanya fasilitas yang membantu penyelenggaraan sepakbola wanita ini bisa berjalan, seperti lapangan yang tertutup, dan pastinya pakaian yang sesuai. Namun mereka mengatakan bahwa fasilitas seperti inilah yang belum ada dan belum bisa menjamin pelaksanaan bagi sepakbola putri Aceh.

Persoalan berbau budaya dan agama memang tak bisa terlepas dari berbagai lini aktivitas, termasuk dalam perhelatan olahraga sekalipun. Sepak bola di negeri Iran dan Arab Saudi melewati begitu banyak tantangan dan hambatan mengenai aturan-aturan yang semrawut. Sama halnya dengan Aceh yang memang memiliki pandangan budaya sendiri dalam berpartisipasi pada sebuah perhelatan. Polemik sepakbola dan negeri Islam ini menjadi pertanda bahwa kesepakatan masih runyam dan mesti dibenahi. Regulasi yang tercium sebagai diskriminasi tentu tak pernah disukai oleh siapapun. Sepakbola seharusnya menjadi kebebasan dalam berekspresi, namun kadang kala kebebasan ini tak diberi.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait