Tong Sin Fu: Pelatih yang Disia-siakan Indonesia

Dipublikasikan oleh Olivia Annisa
Reading Time: 3 minutes

Umpanbalik.idTang Xianhu, atau Tong Sin Fu dengan nama Indonesianya Fuad Nurhadi merupakan pemain sekaligus pelatih di bidang olahraga bulutangkis. Tong Sin merupakan keturunan Tionghoa, ia dan keluarga hidup dalam era Orde Baru. Ia kini menetap di Tiongkok, kisah hidupnya cukup menarik bila ditilik. Meskipun dirinya kini telah pensiun, namun Tong Sin adalah korban dari politik rasisme dalam sejarah olahraga Indonesia. Dirinya terpaksa harus hengkang dari tanah kelahiran, Hindia Belanda atau Indonesia.

Pamornya sebagai pelatih diagungkan karena berhasil membentuk Lin Dan, tunggal putra bulutangkis China sebagai monster yang ditakuti di kelasnya. Tong memulai karirnya sebagai pebulu tangkis dengan ragam bakat yang dimilikinya. Ia bahkan menjadi pemain junior terbaik di era 1950-an. Setelah mengasah bakat di Indonesia, dirinya memutuskan untuk pindah ke China dengan harap dapat memperluas kemampuannya.

Sayangnya selama di China, Tong tak dapat bermain dengan mulus lantaran saat itu kondisi politik China sedang panas sehingga mempengaruhi para atlet yang tampil di kejuaraan nasional. Menurut Indosport, Saat itu pemerintah China tak mengizinkan atlet-atletnya untuk mengikuti turnamen di negara Eropa atau di negara-negara yang tak sealiran dengan China. 

Alhasil, nama Tong Sin hanya terkenal di dalam Asia saja, hingga Tong mencoba meniti kiprahnya dan akhirnya melejit bersamaan dengan rekan seperjuangannya Hong Chia Chang. Lambat laun, Pemerintah China mulai melembut, para atlet kemudian diizinkan untuk bertanding di kejuaraan internasional. Tong mulai menunjukan gaungnya dengan habis melibas pebulutangkis terbaik Eropa, Erland Kops dalam laga ekshibisi. Tong saat itu menunjukan kebolehannya dengan membuat pertandingan yang berlangsung dua set itu mencetak skor telak 15-0, 15-0. Kops pun terpaksa harus merintih rasa kecewa akibat dibuat terkapar.

READ  Siap Tempur! Indonesia Kirim 20 Atlet di Denmark Open 2021

Telah dirasa cukup bertanding, Tong memutuskan untuk gantung raket pada tahun 1979 dan melanjutkan karir sebagai pelatih disana. Tong menghabiskan delapan tahun berkarir sebagai pelatih di China. Tahun 1986, dirinya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan berkarir sebagai pelatih di Indonesia, dirinya mendapatkan posisi melatih di PB Jaya Raya, dan kemudian Tong masuk dalam jajaran pelatih Pelatnas Cipayung. Lewat tangan saktinya, Tong berhasil melahirkan pebulutangkis ternama di Indonesia seperti Ardy B Wiranata, Joko Supriyanto, Hariyanto Arbi, dan Alan Budikusuma.

Meskipun telah berusaha melahirkan anak didik dengan bakat luar biasa, mengantarkan Alan Budikusuma dan rekan-rekannya membawa pulang emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Upaya Tong yang saat itu berhasil ikut andil dalam membangkitkan prestasi generasi tunggal putra Indonesia di kancah dunia, tak mendapat kemudahan dalam memperoleh identitas sebagai WNI. 

Selama menjadi pelatih di Indonesia, Tong dan keluarganya berusaha memperoleh pengakuan sebagai WNI, entah bagaimana tahun 1998 permohonan kewarganegaraan dirinya beserta keluarganya ditolak begitu saja. Padahal kalau dipikir-pikir Tong adalah pelatih komersil yang berhasil mencetak generasi terbaik bulutangkis pada saat itu, harusnya Tong mendapatkan kemudahan akses sebagai penghormatan untuk dirinya. Permasalahan ini kemudian memaksa Tong untuk memilih meninggalkan Indonesia.

Usut punya usut, Tong adalah tokoh legenda olahraga yang menjadi korban permainan kotor dalam kasus penolakan kewarganegaraan di era politik Indonesia saat itu. Diktator politik yang mendominasi saat itu memaksa Tong untuk pindah agama sebagai pelengkap syarat mendapatkan status WNI. Maklum saja, di era Orde Baru warga keturunan Tionghoa menjadi sasaran diskriminasi dan rasis. 

Pemerasan kian terjadi dalam upaya Tong memperoleh status di negerinya sendiri, syarat-syarat yang sudah tak masuk akal dan kontradiktif memaksa dirinya mengeluarkan pundi-pundi uang dengan jumlah besar. Isu rasis yang meluap saat zaman Orde Baru kian dirasakan oleh Tong, meskipun dirinya berjabat sebagai pelatih hebat kala itu. 

READ  Nadeo Argawinata: Kiper Timnas yang Sempat Dipandang Sebelah Mata

Namun tak sedikit pun diistimewakan  perihal hanya karena Tong bukanlah keturunan asli pribumi. “Tong Sin Fu anak buah saya, di mah dibodohin, diperlakukan tidak adil, kita ga bisa bahas sejarah kalau udah ada SARA,” ucap Tan Joe Hok yang mengemukakan fakta pada tim Indosport. “Sekarang hidupnya lebih senang di China sana, dia mendapat bayaran besar, anak-anaknya juga suda pada sekolah di sana, dapat perumahan, dapat perawatan kesehatan, dapat segala-galanya,” tambah Tan.

Indonesia patutnya juga mementingkan posisi pelatih sebagai pencetak karir mumpuni untuk para atlet. Kasus Tong Sin Fu ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi Indonesia, agar tak menggampangkan urusan mempertahankan pelatih yang berpotensi membentuk dan merawat generasi emas di sebagai kejayaan atlet-atlet dalam negeri di kancah internasional. 

Tong Sin Fu adalah sosok pelatih loyal yang selalu mendampingi atletnya di pinggir lapang, bukan sebagai pelengkap saja, tangan dinginnya membuktikan bahwa seorang pelatih harus jeli mengasah bakat sang atlet.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait