Jean-Pierre Adams, Menjemput Akhirat Setelah Koma 39 Tahun

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 3 minutes

Sumber: Tribunnews. Jean-Pierre Adams di Lapangan.

Umpanbalik.idJean-Pierre Adams, telah memilih berhenti berjuang untuk hidupnya. Ironis, karena dokter anestesinya yang ceroboh, ia harus mengalami koma selama 39 tahun. Dua hari yang lalu, mantan bek PSG dan Timnas Prancis ini menghembuskan napas terakhir di atas kasur rumahnya yang berpuluh tahun ia tempati. Lebih dari setengah tahun hidupnya, Jean Pierre hanya bisa berbaring akibat malpraktik di Lyon Hospital.

Walaupun 39 tahun hidupnya dihabiskan di atas kasur, nama Jean-Pierre Adams masih selalu diingat oleh banyak orang atas prestasinya. Kisahnya dimulai ketika ia dilahirkan di Senegal pada 10 Maret 1948. Sepak bola telah menjadi hal yang telah mengalir di darahnya. Pamannya, Alexandre Diedhiou, bermain untuk klub Jeanne d’Arc yang saat itu sangat terkenal. Sayang, Adams tidak diizinkan untuk bermain sepak bola oleh keluarga Katoliknya kecuali ia memiliki nilai sekolah yang cukup.

Dilansir dari The Guardian, Jean-Pierre Adams melanjutkan sekolahnya di Prancis. Titik inilah yang menjadi bagian terpenting saat masa remaja Adams. Ia mulai bermain sepak bola, dan namanya cukup populer sebagai ‘Serigala Putih’ yang mampu bersosialisasi secara cepat. Pada akhirnya, ia masuk ke d’Entente Bagneux-Fontainebleau-Nemours (EBFN), sebuah klub sepak bola di Prancis.

Setelah mulai mendekati mimpinya sebagai pemain profesional sepak bola, Adams terlibat kecelakaan mobil yang sangat serius bersama sahabatnya, Guy Beaudot. Nyawanya masih tertolong, namun tidak dengan sahabatnya yang tewas. Karena kecelakaan ini, lutut Adams mengalami luka serius yang mana ini nantinya menjadi penyebab atas berakhirnya karir Adams di dunia sepak bola. 

Semua bermula ketika Adams berada di kota Bourguignon, ia berencana untuk mengikuti sertifikasi pelatihan yang mana harus kursus selama seminggu. Namun, di hari ketiga, lututnya terasa sangat sakit dan pada esok harinya ia diperiksa di Lyon Hospital. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan besar di tendon bagian belakang lutut, dan setelah berdiskusi cukup panjang ia diputuskan harus menjalani operasi.

READ  Juventus Resmi Persembahkan Jersey Kandang Baru

Operasi dijadwalkan pada tanggal 17 Maret 1982. Adams ditemani oleh istrinya, Bernadette, yang terus menerus merasa khawatir terhadap proses operasi ini, “Tidak apa-apa, aku dalam kondisi yang sangat baik,” ucap Adams berusaha mengurangi rasa khawatir istrinya sebelum masuk ke ruang operasi.

Harusnya, ketika Adams masuk ruang operasi dan diberi obat bius, ia harus sadar kembali dalam waktu beberapa jam. Namun naas, selama 39 tahun kedepan, Adams tak kunjung bangun. Adams dinyatakan mengalami koma. Istri dan kedua anaknya, Laurent dan Frederic terus menerus menemani Adams di rumah sakit dengan harapan bahwa Adams akan segera sadar.

Waktu berjalan sangat lama, dan operasi pun di investigasi oleh pihak yang berwajib. Rumah sakit memberikan izin untuk itu, dan setelah diperiksa, ternyata dokter anestesi yang saat itu bertanggung jawab kepada Adams bertindak dengan sangat ceroboh. Dokter itu mengawasi sebanyak delapan operasi sekaligus, termasuk sebuah operasi yang tingkat kerumitannya lebih tinggi. Ternyata Adams diberikan obat anestesi yang salah, dan yang mengawasinya adalah seorang dokter magang.

Kesalahan itu menyebabkan kerusakan otak karena kurangnya pasokan oksigen. Akhirnya, Adams koma selama berpuluh-puluh tahun. Saat ini, di usianya yang sudah menginjak 73 tahun, Adams telah memiliki cucu dan dirawat penuh oleh istrinya yang sangat setia.

Sumber: Offside/L’equipe The Guardian. Potret Jean-Pierre dengan istri dan anaknya.

Setelah pihak rumah sakit menyatakan tidak dapat mengobati atau menyembuhkan Adams lagi, istrinya membawa Adams ke rumah. Walaupun begitu, Adams masih bisa hidup tanpa bernapas menggunakan mesin. Semua keluarga masih sangat mengingat Adams dan berusah semaksimal mungkin untuk berinteraksi dengan Adams, “Kami sering memberi Adams sebuah hadiah seperti kaus atau jaket, ketika di hari ulang tahunnya, hari ayah, ataupun ketika natal,” kata Bernadette dikutip dari Kumparan.

READ  Zinedine Zidane dan Enam Rahasia Kecilnya

Setelah mendapat bantuan finansial dari klubnya dan berbagai macam pihak lain, Bernadette membangun rumah khusus yang diberi nama Mas du bel athlete dormant atau The House of Beautiful Sleeping Athlete. Kepada The Guardian, Bernadette mengatakan, “Jean-Pierre masih bisa merasakan, mencium, mendengar, dan sedikit bergerak ketika anjing menggonggong. Helaian rambutnya pun memutih.”

Namun, perjuangan Jean-Pierre untuk selalu berada di samping istri dan anaknya kini telah usai. Ia telah memilih surga untuk tempat berlabuhnya. Luka yang tertoreh begitu dalam bagi dirinya dan keluarga perlahan mulai terhapus. Saat ini Adams telah berada dalam tempat terbaiknya. Rest in peace, Adams. 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait