Matt Stutzman dan Kaki Piawainya

Dipublikasikan oleh Olivia Annisa
Reading Time: 3 minutes
Sumber Foto : Getty Image, “Cara Matt Stutzman memainkan panahannya”

Umpanbalik.id – Matthew Stutzman atau yang akrab dikenal dengan Matt Stutzman adalah pemanah asal Amerika yang ikut berlaga di Paralimpiade Tokyo 2021. Matt lahir tanpa lengan, dan terbiasa menggunakan kaki sebagai alat geraknya menjalankan aktivitas, termasuk saat ia memanah.

 

Dilahirkan tanpa kedua tangan, tak mengurungkan keinginannya untuk meraih emas di cabang olahraga panahan. Atlet asal Amerika ini terlihat piawai memainkan panahan dengan aksinya menggunakan kaki, pundak, dan mulut. Matt Stutzman yang berusia 39 tahun ini tercatat sebagai atlet Amerika cabor panahan, ia merupakan anggota 2.012 US Paralimpiade Archery Team. Matt berambisi menjadi pemegang rekor dunia menembak terpanjang akurat dalam memanah. 

 

Meski lahir tanpa tangan, Matt belajar untuk melakukan segala sesuatu dengan kakinya. Sejak kecil ia sudah tertarik mendalami olahraga panahan ketika berhasil menguasai teknik menembak menggunakan kaki piawainya. Sang ibu mengatakan Matt pernah menembak sebuah koin dari jarak 50 yard.

Cacat bukanlah halangan bagi Matt Stutzman, meski tahu kekurangan dirinya. Saat itu, ia mempunyai tekad yang kuat untuk lolos kualifikasi Olimpiade London 2012 lewat olahraga panahan. Matt melakukan semua hal layaknya orang normal hanya dengan kakinya. Melihat keadaannya, Matt semakin yakin ia bisa menguasai panahan melalui teknik memegang busur dengan kakinya. Menurutnya, teknik ini lebih menguntungkan karena ia merasa kaki lebih kuat daripada tangan.

READ  Susi Susanti: Ratu Pertama All England Indonesia, yang Tak Terkalahkan

 

“Lewat olahraga panahan, aku bisa memperhatikan keluargaku dan membuatku merasa luar biasa sebagai seorang pria. Dan sekarang aku bisa merawat anak-anak ku seperti sebagaimana aku harus menjaga mereka,” ungkap Matt di channel resmi Youtube milik Paralympic Tokyo 2020.

Ketika berkecimpung di dunia olahraga, Matt menginginkan dirinya bisa melakukan sesuatu hal yang luar biasa, ia tahu apa yang diinginkannya. Tahun 2011 Matt meyakinkan diri bisa berada di paralimpik, paralimpiade sedikit banyak mengubah hidupnya. Dirinya dulu tidak tahu bagaimana mengubah ketidaksempurnaan menjadi suatu kelebihan, dan kini ia mengerti bagaimana cara memanfaatkan anggota tubuhnya. Panahan menjadi perjalanan pengalamannya yang membuat Matt tumbuh, ia sering menjadi sosok inspiratif untuk membuat banyak orang mengerti tentang arti dari mimpi. Sampai dirinya diabadikan dalam dokumenter berjudul “My Way To Olympic”.

 

Matt tidak pernah menyerah dan putus asa, ia memiliki kesempatan dan melihatnya sebagai sebuah peluang. Matt menganggap panahan adalah jalan terbaik yang dipilihnya saat itu sebagai titik balik dimana ia bisa memaknai kehidupan. Tahun 2015, seperti yang tertulis dalam laman Guinnes World Record, Matt berhasil membuktikan bahwa dirinya layak dinobatkan sebagai pemecah rekor dari memanah jarak akurat terjauh. Merasa tak puas dengan prestasi tersebut, Matt beroptimis bisa masuk kualifikasi Paralimpiade Tokyo 2020. “Untuk menjadi yang terbaik, saya harus bertarung melawan pemanah terbaik di dunia,” ucapnya dikutip dari erabaru.net.

 

Perjalanan panjang tidak hanya terjadi dalam kompetisi olahraga, di kehidupannya Matt, sedari kecil mengalami hal-hal memilukan sekaligus menakjubkan. Saat berusia tiga bulan, Matt ditinggalkan oleh orang tua kandungnya. Ia kemudian diadopsi oleh keluarga lainnya, beruntungnya Matt diperlakukan layaknya orang normal. Orang tua angkatnya mengajari dirinya menjalankan aktivitas seperti biasa bahkan Matt didukung dengan fasilitas yang cukup untuk mengantarkannya menjadi atlet panahan dengan syarat Matt bisa berjuang sendiri, dan mau melakukannya sendiri.

READ  Kartika Siti Aminah, Pelatih Perempuan Pertama di IBL yang Penuh Taktik Ajaib

 

Matt mendapat pelajaran hidup dari orang tua angkatnya, bahwa ia bisa menangis, mengeluh karena tak memiliki tangan, tapi tangannya memang tak akan bisa kembali. Namun Matt melihat kegigihan orang tuanya untuk membantu dirinya belajar bagaimana menjalani kehidupan tanpa tangan. Dari tangan orang tuanya inilah Matt belajar untuk melihat suatu situasi dan belajar menyesuaikan diri dengan dunia yang ia hadapi. Sehingga saat dewasa dirinya mampu mencapai hal-hal yang diinginkannya satu persatu.

 

Pria tiga anak ini bertemu dengan olahraga memanah tanpa tangan karena saat itu ia sedang mengalami keterpurukan mencari pekerjaan di kota kecil tempatnya tinggal. Dengan niat menghidupi istri dan anak-anaknya, Matt semakin terasah menggunakan kemampuannya dalam olahraga ini. Turnamen memanah kian bergulir, namun saat itu matanya belum terbuka luas untuk mengikuti paralimpiadde. Matt makin hari makin piawai melakukan teknik khusus untuk menembak busur, ia memegangi busurnya dengan kaki kanannya dan dibantu rahangnya untuk melepaskan anak panah.

 

Matt menjelaskan sedikit trik yang digunakannya terletak pada punggungnya, punggung membatu dirinya menembak dan mengarahkan panah ke tengah. Teknik ini memungkinkan dirinya konsisten dalam membidik papan. “Fokus saya tahun depan adalah menjadi atlet pemanah yang hebat,” katanya kepada World Archery.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait