Cerita Dibalik Esport Jadi Sebuah Olahraga

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 3 minutes

Sumber: Unsplash/Florian Olivo. Saat seseorang sedang melakukan kompetisi esport.

Umpanbalik.id 03/09/2021 – Seruan seseorang di atas layar smartphone-nya, lincah sebuah jari bergerak di atas layar, dan raut muka yang berubah-ubah telah menjadi sebuah fenomena biasa yang selalu ada saat ini. Bukan hanya digunakan sebagai alat komunikasi saja, namun ada sebuah game yang mampu membuat seseorang bertahan lama menggenggam smartphone-nya. Menariknya, game tersebut bukan hanya sekadar permainan menguji adrenaline. Lebih dari itu, lahir sebuah olahraga yang mampu membuat pertandingan besar dengan para atletnya.

Tahun 2020 jadi waktu pertama bagi Indonesia meresmikan Esport sebagai bagian olahraga yang bisa dipertandingkan di ajang internasional. Dilansir dari Hybrid, Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) KONI Pusat 2020 menyatakan e-sport sebagai olahraga prestasi dan dapat berkompetisi misalnya di Pekan Olahraga Nasional (PON). Dengan adanya peresmian ini, maka ekspor akan menjadi lebih terstruktur dan selalu adanya perkembangan.

Indonesia termasuk negara baru yang mengakui bahwa Esport bisa menjadi sebuah olahraga. Di negara lain, seperti misalnya Perancis, Korea Selatan, China, dan lain-lain sudah sejak lama menggenggam Esport jadi olahraga paling berpotensi. Namun, sebelum benar-benar ditetapkan sebagai olahraga, banyak pro-kontra yang menghalangi pengakuan tentang E-sport.

Sejarah dan Pro-Kontra ESport Diakui sebagai Olahraga

Banyak perdebatan ketika akan mengakui esport sebagai olahraga, karena masalah utamanya yaitu aktivitas fisik. Definisi dari Council of Europe’s European Sport Charter mengatakan bahwa olahraga berarti semua bentuk aktivitas fisik yang terorganisir dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik. Selain itu, dapat membentuk hubungan sosial atau memperoleh hasil dalam kompetisi di semua tingkatan.

Dilansir dari jurnal eSports – Competitive Sports or Recreational Activity, Rodgers mengatakan idealnya ada empat faktor yang harus ada di dalam sebuah olahraga. Pertama, harus melibatkan aktivitas fisik, kedua dapat dipraktekkan untuk tujuan olahraga rekreasi, ketiga, melibatkan unsur kompetisi dan memiliki organisasi kelembagaan. 

READ  Akan Segera Dilaksanakan, Piala Presiden E-sports 2021 Direncanakan dengan Megah

Namun, terdapat beberapa definisi yang jadi pertimbangan sebenarnya seperti apa ‘aktivitas fisik’ itu. Apakah harus seseorang yang melakukan aktivitas secara terstruktur seperti olahraga tradisional? Atau bisa kah seseorang yang melakukan aktivitas memegang mobile device juga termasuk dalam aktivitas fisik?

Dilansir dari situs Heart.org, American Heart Association mendefinisikan aktivitas fisik secara luas yaitu sebagai apa saja yang membuat seseorang menggerakkan tubuh mereka dan dapat membakar kalori. Sedangkan menurut World Health Organization, aktivitas adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang membutuhkan energi. 

Jika beralih kepada beberapa definisi e-sport, misalnya dari Cambridge Dictionary (2017), Esport diartikan sebagai aktivitas bermain komputer dengan orang lain di internet, beberapa diantaranya untuk menghasilkan uang atau hanya menonton orang lain di internet. Masih dilansir dari jurnal eSports – Competitive Sports or Recreational Activity, OCA (Komite Olimpiade Asia), menjelaskan esport sebagai permainan video game secara kompetitif yang bervariasi dan memiliki banyak pertarungan strategi.

Dari dua definisi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa pada saat itu e-sport belum bisa masuk dalam kategori olahraga jika mengacu dari aspek aktivitas fisik. Pada tahun 2015 DOSB, sebuah konfederasi olahraga olimpiade paling besar di Jerman dengan lebih dari 27 juta member yang bergabung, juga menyatakan bahwa esport bukan sebagai olahraga. Karena sebuah olahraga harus mempunyai tiga aspek penting yaitu, harus melibatkan aktivitas fisik, harus mempunyai nilai etika seperti fair play, kesempatan yang sama untuk semua orang, dan mempunyai organisasi yang terstruktur.

Bagaimanapun juga, diskusi tentang E-sport masih terus menerus dilakukan untuk menetapkan sebagai olahraga atau bukan. Lalu, terdapat balasan pendapat dari Witkowski, bahwa dalam E-sport ada aktivitas fisik. Diantaranya adalah gerakan tubuh seimbang yang dilakukan oleh player agar tidak meniru gerakan dari avatar yang dimainkannya. Lalu, ada aspek haptic, yang artinya sensasi sentuhan kontak fisik antara pengguna dengan komputer, keyboard, dan mouse. Selain itu, sama seperti olahraga lainnya, tekanan fisiologis juga sangat nyata selama kompetisi. Bahkan, energi hormon kortisol dalam tubuh yang dikeluarkan sebanding dengan atlet lari atau pembalap.

READ  Sejarah Sepak Bola Indonesia Pertama Kali Bergulir dari Remaja SMA

Pengakuan Esport sebagai Olahraga

Perkembangan Esport sangat menanjak pesat ditandai dengan banyaknya kompetisi game berskala internasional dengan hadiah yang berlimpah. Keberadaan Esport mulai diakui karena sama seperti olahraga tradisional, esport mempunyai unsur kompetitif, sportifitas, dan prestasi. Bahkan, Esport juga memiliki masalah seperti cedera atlet, kecurangan, ataupun doping.

Maka, dibentuklah organisasi seperti WESA (World eSports Association) dan IeSF (The International e-Sports Federation) yang bergerak untuk membentuk standarisasi dan aturan mutlak dari sebuah kompetisi game. Badan Olimpiade Dunia (IOC) juga memberitahu bahwa Esport akan menjadi salah satu cabor di olimpiade.

Langkah terang Esport terlihat saat Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan dan ketika Badan Olimpiade Asia (OCA) memasukkan Esport pada Asian Games 2018. “eSports yang kompetitif bisa disebut sebagai kegiatan olahraga, karena para pemain yang terlibat harus mempersiapkan diri dan berlatih dengan intensitas yang mungkin saja sebanding dengan atlet dalam olahraga tradisional,” ucap perwakilan IOC dikutip dari Kumparan.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait