Wajah Tak Terpandang Kevin Cordon Bersama Kisah Perjuangannya

Dipublikasikan oleh Olivia Annisa
Reading Time: 3 minutes

Umpanbalik.id 03/08/2021 – Datang dari kota paling utara di Amerika Tengah, Kevin Cordon adalah  segelintir dari sekian banyak atlet yang memiliki cerita perjuangan terenyuh dan inspiratif bila dikulik. Tampil dengan raut wajah penuh perjuangan pada Olimpiade Tokyo 2020, perjuangan keras terlihat dari bagaimana ia menyemangati dirinya sendiri. Tak tanggung-tanggung, Kevin Cordon sukses melaju sampai ke babak empat besar mengalahkan raksasa bulu tangkis, Heo Kwang Hee dari Korea Selatan dengan skor 21-13 dan 21-18. Kevin mengungkapkan betapa berhasilnya ia membuat keyakinan pada dirinya sendiri untuk tampil memukau dan membuka mata orang-orang yang memandangnya sebelah mata.

“Bisakah kalian percaya bahwa saya berada di semifinal sekarang? perasaan ini luar biasa,” katanya dikutip dari AFP. Kevin menambahkan bahwa kota asalnya, Guatemala tidak dapat dibandingkan dengan negara manapun di Eropa atau Asia karena kurangnya perhatian dan minat dari masyarakat terhadap bulu tangkis. Tapi Cordon meyakini atlet Guatemala bisa menyamai para raksasa bulu tangkis dengan bermain sepenuh hati. 

Sumber foto: Getty Images.
Kevin Cordon dari Tim Guatemala merayakan kemenangannya melawan Mark Caljouw dari Tim Belanda pada pertandingan babak 16 besar tunggal putra pada hari keenam Olimpiade Tokyo 2020.

Dilansir dari Kompas.com, Guatemala hanya pernah mencatat kemenangan satu medali olimpiade dengan atlet bernama Erick Barrondo yang meraih medali perak dalam lari 20 kilometer putra di Olimpiade London 2012. Cordon pun tak meyakini bahwa orang-orang di kota asalnya mengikuti perhelatan pertandingan olahraga dunia ini, bahkan orang tuanya pun mungkin tak ikut menyaksikan perjuangannya. Namun, Cordon tetap berusaha fokus pada permainan, “Ketika saya berlatih dengan hati, dan kesabaran. Semua hal baik ini akan datang ke dalam hidup,” ujar Cordon.

READ  Takeshi Kamura: Peringkat 6 Dunia Tak Tampil di Sudirman Cup, Ternyata Putuskan Gantung Raket

Kevin Cordon sontak menjadi kejutan pada keunikan Olimpiade Tokyo 2020, bermula dari dirinya yang hanya menduduki ranking 59 bulu tangkis dunia. Lewat perjuangan dan keyakinannya, Cordon mengukir prestasi dengan menjadi atlet Guatemala pertama yang melaju ke semifinal olimpiade. Permainan penuh emosional mendudukinya pada empat besar dan berada di perempat final, meski di ujung ia harus menelan kekalahan dari tunggal putra Denmark, Viktor Axelsen dan gagal merebut medali perunggu dari atlet kebanggaan Indonesia, Anthony Ginting. 

Walaupun waktu permainan menunjukan kekalahan bagi Cordon, ia tak terlihat sedikit pun kesal. Jujur saja ia tak perlu merasa kecewa sebab Cordon menjadi legenda sejarah bagi Guatemala di olimpiade besar dunia. “Saya terus memiliki mimpi yang sama dan menikmatinya bahkan lebih dari sebelumnya,” kata Cordon dikutip dari Kompas.com. Keberhasilan Cordon sepertinya hangat diperbincangkan di Indonesia apalagi saat tahu bahwa kesuksesan Cordon juga dihiasi oleh Muamar Qadafi seorang pelatih bulu tangkis asal Solo. Muamar Qadafi adalah pelatih asal Indonesia yang memilih melatih atlet bulu tangkis dari negara lain.

Terlepas dari bantuan pelatih asal Indonesia tersebut, Kevin Cordon jauh melewati perjalanan panjang untuk mencapai posisinya saat ini. Dilansir dari Olympics.com, saat berusia 12 tahun Cordon telah berdiri di kaki sendiri dan meninggalkan kedua orang tuanya. Kala itu ia berangkat untuk berlatih dan mengikuti berbagai perlombaan bulu tangkis di Kota Guatemala. Beruntungnya niat baik Cordon difasilitasi oleh Federasi Badminton Guatemala. Hari demi hari dihabiskannya untuk tumbuh dan banyak belajar dari bulu tangkis, kecintaanya terhadap bulu tangkis kian bertambah meskipun saat itu sang ayah masih menginginkan Cordon berjuang lewat jalur Sepak Bola. “Orang tua saya tidak tahu apa-apa tentang bulu tangkis, tetapi mereka berkata, jika saya ingin menjadi pemain bulu tangkis dan mewujudkan impian. pergilah ke ibu kota,” ungkapnya dikutip dari sport.tempo.com.

READ  Carlos Fortes: Penyerang Ideal Asal Portugal, Kebanggaan Singo Edan

Meskipun namanya samar terdengar, Kevin Cordon merupakan pemain lama yang kini berusia 36 tahun dan menjalani olimpiade keempat baginya. Pencapaian Cordon sebelumnya tidak pernah lebih lebih melewati babak 16 besar. Inilah mengapa semifinal menjadi puncak kebahagian dari pembuktian jerih payah Cordon melalui segala cerita panjangnya dalam bulu tangkis. Tentunya meraih  posisi semifinal tidak semudah membalikan telapak tangan, Cordon sempat harus berlatih di aula gereja pada pertengahan 2020, lantara tidak banyak mendapatkan fasilitas mumpuni dari kotanya. Bahkan ia sempat harus berlatih secara mandiri dirumah pada pertengahan Maret sampai Juni 2020. Sadar akan pemulihan intensitas latihan menjelang Olimpiade Tokyo 2020, Kevin Cordon pun ikut turun tangan menemukan lokasi yang strategis untuk disulap menjadi tempatnya berlatih.

Walaupun namanya jarang terdengar, atlet bulu tangkis Guatemala ini berhasil mencengangkan dunia karena kerja keras yang membawa negaranya. Meski ranking 59 sempat membuatnya dipandang sebelah mata, tetapi hal tersebut tidak membuatnya berkecil hati. Mentalitas juara Cordon terlihat jelas dari pertandingan-pertandingannya, hingga lolos sampai di semifinal. Kepercayaan dirinyalah  yang membuat ia berhasil mencengangkan dunia. Raut wajahnya menggambarkan ekspresi murni dari rasa haru dan bangga setelah berhasil mengalahkan atlet unggulan dunia bulu tangkis. Mentalitas yang besar dan kepercayaan diri untuk mengalahkan lawan yang besar patut dijadikan contoh dari figur seorang Kevin Cordon.

READ  Tangan Dingin Roberto Mancini Ketika Genggam Italia
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait