Hend Zaza: Atlet Tenis Termuda Perwakilan dari Negara Penuh Perang

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 3 minutes

Sumber: Reuters/Luisa Gonzales. Hend Zaza saat melawan Liu Jia di pertandingan pembuka tenis meja Olimpiade Tokyo 2020.

Umpanbalik.id 28/07/2021 – Berbagai macam kesulitan dan rintangan tidak menyurutkan semangat Hend Zaza untuk melakukan pertandingan di Olimpiade Tokyo 2020. Berada di tengah meriahnya opening ceremony Olimpiade Tokyo, Hend Zaza berdiri tegap sebagai pembawa bendera yang mewakili semangat dari tim kecilnya yang berasal dari Suriah. Di tengah perang yang terus menerus negaranya, Hend Zaza masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak kalah dengan keadaan buruk yang menimpanya. Hebatnya lagi, Hend Zaza masih berusia 12 tahun. Sebuah angka yang menakjubkan di Olimpiade Tokyo.

Kecintaannya terhadap tenis datang dari perjuangan kakaknya yang juga memiliki banyak prestasi dalam tenis. Harapannya di Olimpiade Tokyo 2020 bukan untuk menang, ia lebih memilih untuk membawa perjuangannya ini agar negara Suriah dapat menemukan sedikit kebahagiaan lewat dirinya. Zaza ingin perjuangannya ini menginspirasi negaranya untuk tidak kehilangan harapan di tengah sulitnya keadaan.

Ketika usianya 5 tahun, Hend Zaza berjuang di kota kelahirannya di Hama, yang mana perang sedang terjadi sangat serius pada saat itu. Pelatihnya, Adham Aljumaan menjadi salah satu orang terpenting di balik tekad kuatnya. Keadaan yang buruk tentu sangat berimbas kepada performa latihannya yang mana sering tertunda akibat adanya pemadaman listrik secara tiba-tiba karena adanya perang. 

Zaza dan pelatihnya harus menunggu agar kondisi sekitar bisa lebih kondusif. Lantai beton yang hancur, peralatan tenisnya yang menghilang atau rusak, serta meja tenis yang semakin usang akibat adanya tumpukan debu menjadi saksi perjuangannya. Seiring berjalannya waktu, situasi belum kunjung membaik. Peralatan tenis semakin sulit didapat dan Zaza harus rela kehilangan beberapa kesempatan untuk bertanding ke luar negeri akibat sulitnya keluar dari negara Suriah dan mendapatkan visa perjalanan. 

READ  Setyana Mapasa: Atlet Kelahiran Indonesia Perwakilan Australia di Olimpiade Tokyo 2020

Namun, seperti sebuah harapan yang diharapkan, pada Februari 2020, Hend Zaza berhasil di West Asia Olympic Qualification Tournament yang membawanya ke Olimpiade Tokyo 2020. “Tenis meja memberi saya segalanya dan mengajari saya untuk menjadi manusia yang kuat dan percaya diri. Itu memberi saya kesabaran,” kata Zaza. “Kami berlatih sehingga kami dapat menantang seluruh dunia dan kami siap menghadapi tantangan itu,” lanjutnya dikutip dari ESPN.

Setelah kehadirannya di Olimpiade Tokyo 2020 yang semakin nyata, Hend Zaza meneteskan air matanya untuk pertama kali. Menginjakkan kaki di Tokyo adalah hal yang sangat besar baginya apalagi pada usia 12 tahun di tengah perang yang terus melanda negaranya. The New York Times menuturkan Hend Zaza kalah pada hari sabtu dengan perolehan skor (4-11, 9-11, 3-11, 5-11) ketika bertanding dengan atlet veteran dari Australia yang bernama Liu Jia. 

Liu Jia, seorang atlet veteran berusia 39 tahun yang telah mengikuti banyak olimpiade bahkan sebelum Hend Zaza lahir, sangat mengapresiasi performa atlet tenis termuda itu ketika sedang pertandingan. Kehadiran Hend Zaza mengingatkannya kepada anaknya sendiri yang memiliki usia sama dengan Zaza.

 Dikutip dari The Guardian, Liu Jia menceritakan percakapan dengan anaknya sebelum pertandingan.  “Semua orang tahu bahwa kalah dari seseorang yang lebih muda bisa sedikit memalukan,” kata Liu. “Kemarin saya bertanya kepada putri saya: ‘Apakah kamu tahu ibumu bermain melawan seseorang yang dua tahun lebih tua dari kamu?’ Tanggapan pertamanya adalah: ‘Kalau begitu sebaiknya jangan kalah!’ Saya berkata: ‘Jangan beri saya tekanan!”

Setelah pertandingan berakhir, Liu Jia mengapresiasi performa Zaza dalam tenis meja yang menguasai teknik servis bervariasi serta gerakan tangan yang sangat lincah. “Dia harus menanggung kesulitan selama masa latihannya dan menanggung beban yang banyak. Itu sangat luar biasa, tentunya itu tidak mudah baginya, apalagi dia adalah seorang perempuan. Berada di olimpiade pada usia 12 tahun juga sangat hebat. Dalam hati saya mengaguminya,” ucap Liu yang dikutip dari ESPN

READ  Greysia Polii: Olimpiade Terakhir Sebelum Pensiun

Saat ini, Hend Zaza telah kembali berlatih ke Damaskus dan terus belajar untuk kemampuannya sebagai atlet untuk menyiapkan olimpiade selanjutnya. Tidak hanya itu, ia pun sedang belajar untuk mencapai cita-citanya yang lain sebagai pengacara atau seorang apoteker. Perjuangannya di Tokyo telah usai, namun perjuangannya masih sangat panjang. Karena itu, ia melengkapi memori pertamanya di Tokyo dengan selfie bersama dengan Liu Jia. 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait