Tangan Dingin Roberto Mancini Ketika Genggam Italia

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 3 minutes

Sumber: Twitter/Robimancio. Roberto Mancini Ketika Mengalungi Bendera Italia di Final EURO 2020.

Umpanbalik.idPria paling rapi dengan jas abu-abu di Stadion Wembley tampak berseri setelah berhasil ciptakan kemenangan lewat tactical masterclass-nya dalam memimpin bangkitnya Azzuri. Air matanya mengalir ketika ia mendapat kenyataan bahwa tim yang dipimpinnya berhasil menjuarai Final EURO 2020. Mancini memeluk semua tim yang berada di sekitarnya sambil dikelilingi sorak bahagia dari para anggota tim serta penggemar yang berteriak di sudut-sudut bangku penonton. Bukan hanya fokus menajamkan strategi, nyatanya Mancini lakukan lebih dari itu dengan cara membangun keharmonisan pada tim.

Sebelumnya, kekuatan Italia masih diselimuti keraguan untuk memenangkan sebuah pertandingan besar. Namun, performa Italia perlahan menjadi semakin impresif seiring dengan berjalannya EURO 2020. Laga demi laga ditaklukkan secara perlahan. Kekuatan dan kerja tim semakin ditempa ketika memasuki akhir dari pertandingan EURO 2020. Sentuhan Mancini telah menjadi langkah terbaik bagi Italia. Kehadirannya datang tepat waktu setelah Italia terpuruk akibat gagal menoreh prestasi pada final Piala Dunia 2018.

“Saya menerima pekerjaan itu karena hidup saya selalu menjadi tantangan. Saya juga merasakan dorongan untuk menebus fakta bahwa, terlepas dari kualitas yang saya miliki sebagai pemain, saya tidak pernah memenangkan apapun bersama Azzurri. Saya bermain 20 tahun di level atas, sehingga memungkinkan saya untuk menyampaikan pengalaman saya kepada para pemain,” kata Mancini setelah ia ditugaskan mengambil alih peran Giampiero Ventura yang dikutip dari Kumparan.

Mancini mengemban tanggung jawab itu dengan penuh suka cita yang mana ia memperhatikan kedekatan personal para timnya. Keharmonisan sebuah tim menjadi salah satu kepedulian terbesarnya untuk Italia. Dilansir dari bola.kompas, Mancini telah melakukan rotasi besar-besaran pada pemain yang bertujuan untuk membuat semua pemain bisa memperoleh kesempatan dan dianggap penting oleh skuad. Kekompakan tim sangat penting untuk dilakukan, karena biasanya masalah di timnas adalah pemain yang memiliki perbedaan sikap dengan level klub. Mancini berhasil menghapus jarak tersebut dan menciptakan formasi permainan Italia yang begitu padu dan sangat berkesan.

READ  Pedri: Bocah Super Sibuk, Andalan Baru Timnas Spanyol

Masih dilansir dari Kumparan, pemain senior seperti Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci dikombinasikan dengan pemain muda seperti Nicolo Barella dan Mattia Pessina, yang mana mereka mampu membimbing dan saling berbagi kebersamaan. Kombinasi ini melebur menjadi satu yang bisa menghasilkan Italia menjadi tim sepak bola yang layak untuk ditakuti. 

Bukan hanya itu, Roberto Mancini berani untuk mengubah filosofi lama milik Italia yang sudah ada selama 100 tahun, sebagai tim super defensif atau catenaccio menjadi permainan possession ball. Namun, kekuatan defensif itu tidak sepenuhnya dihilangkan, tetapi di kombinasi dengan sentuhan sepak bola modern. Gaya sepak bola yang lebih menyerang ini terbukti membekas ketika laga persahabatan dengan Belanda. 

“Saya pikir itu memuaskan bagi semua orang untuk mendengar diri kami dipuji oleh Belanda untuk gaya sepak bola kami. Kami mendominasi Belanda di kandang mereka sendiri, terutama setelah 100 tahun Italia disebut-sebut sebagai tim super-defensif (pertahanan grendel) atau catenaccio. Kami harus memberikan segalanya untuk membawa Italia kembali ke puncak dunia,” ujar Mancini.

Segalanya semakin tampak membaik ketika Mancini perlahan membuat proses-proses penting pada kemajuan tim Azzuri. Setiap pemain Italia mampu memahami perannya masing-masing dalam tim dengan adanya evaluasi pergantian starting line up yang diatur oleh Mancini. Banyak aspek dalam dinamika Italia yang menjadi pusat perhatian Mancini yang pada akhirnya berhasil menyadarkan betapa pentingnya kekuatan tim dibanding dengan analisis strategi teknikal saja. Sikap Mancini ini tentunya membentuk karakter dan mental para pemain yang mampu memiliki pola pikir yang lebih kuat untuk menjadi juara. 

Perjuangan dari Mancini ini tentunya bukan terjadi dalam sekejap saja. Mancini bergabung saat Italia berada di posisi terendahnya. Beberapa pertandingan di awal masa kepemimpinannya masih terlihat abu-abu karena diwarnai oleh kekalahan. Diasah melalui kualifikasi, taktik teknis Italia menjadi lebih matang lagi dengan cara berusaha merebut bola secepat mungkin, membuat garis pertahanan yang tinggi, dan menyerang dengan cepat. 

READ  Ryuji Utomo, Pesepakbola Nasional yang Menerapkan Sikap Profesional

Semua pemain yang berharga siap berdiri di posisinya masing-masing demi menuntaskan hasil akhir yang diharapkan. Kehebatan Roberto Mancini bukan karena pemikirannya saja, namun juga berasal dari kemanusiaan dan hatinya yang tulus untuk menciptakan kepantasan menggaet sebuah juara.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait