Keistimewaan Jadi Peluang, Mengenal Oddie Kurnia dan Sherly Si Atlet Difabel (Part III)

Dipublikasikan oleh Sahwahita
Reading Time: 5 minutes

Oddie Kurnia bersama orang tua ketika berpartisipasi di Asian Para Games 2018.

Umpanbalik.id – Oddie Kurnia, seorang atlet penyandang disabilitas yang menembus dunia badminton Internasional dan Sherly si bibit baru atlet paralympic cabang badminton.

Lahir di tengah keluarga dengan tingkat kecukupan yang rendah dan memiliki keistimewaan sejak kecil. Oddie Kurnia sempat bergelut dengan batin sendiri, ketika dihadapkan dengan peluang besar yang masih diselimuti rasa minder. Oddie kurnia adalah seorang atlet penyandang disabilitas tangan yang berhasil unjuk diri di kancah internasional. Lahir dari ayah yang berprofesi sebagai security dan dari rahim ibu rumah tangga yang berjualan jajanan kue di sekitar rumahnya, awalnya Oddie sama sekali tak pernah membayangkan bahwa ia dapat memulihkan ekonomi keluarga.  Lewat badminton, ia memulai halaman kisah hidup yang mengantarkannya sampai menjadi seorang Aparatur Sipil Negara di Kemenpora Malang.

Bertahun-bertahun berkutat dengan tangan kiri yang harus tegap mengiring kok badminton, sama sekali ia tak pernah merasa jenuh meski terkadang rasa lelah justru berkali-kali lipat didapat oleh tuna daksa ini. Oddie mengatakan bahwa badminton sudah menjadi jati dirinya, dimana Oddie bisa mengemukakan dirinya lewat dunia bulu tangkis. Oddie berhasil menemukan badminton sebagai wadahnya untuk unjuk gigi. Namun jauh sebelum itu, Oddie telah melewati ruang kalut dimana awalnya,  ia merasa minder untuk tampil di depan umum apalagi untuk sebuah kejuaraan besar.

Melewati fase itu, Oddie tak membutuhkan waktu yang cukup lama. Rasa kompetitifnya lah yang membuat Oddie jauh merasa termotivasi. Serta dukungan keluarga yang tak pernah henti-henti disalurkan kepadanya. “Keluarga sangat mendukung, tapi juga tak memaksa keadaan saya.. orang tua cuma bilang wes lek seneng yoo lanjutno,” begitu ungkapnya. 

Perjalanan menjadi seorang atlet disabilitas tak bisa dianggap gampang, Oddie berulang kali pindah gor sana sini untuk tetap bisa latihan rutin. Kadang kala Oddie menjumpai pelatih yang berbeda dengan karakter dan aturan intensitas latihan yang bermacam-macam. Bahkan sering kali jenis dan intensitas latihan Oddie tak dibedakan dengan atlet normal. Hal itu tak menjadi masalah bagi Oddie, yang penting baginya adalah bagaimana ia mendapatkan hak dan rutin berlatih setiap hari.

Awalnya Oddie berlatih di salah satu Gor di dekat rumahnya, dengan nebeng untuk bisa latihan bersama pelatih disana. Setiap bulan Oddie menyisihkan uang sakunya sebesar 200 Ribu untuk bisa berlatih setiap bulan. Lewat latihan sana sini, kemudian salah satu pelatih ditempatnya melirik kesungguhan Oddie dalam badminton. Oddie kemudian mengikuti perlombaan badminton kategori umum, salah satu pelatih yang dekat dengannya menyarankan Oddie masuk cabang badminton dengan kategori disabilitas tuna daksa. Notabenenya memang masih banyak peluang terbuka disana. Karena untuk wilayah Malang sendiri masih sulit menemukan atlet disabilitas, apalagi dalam olahraga paralympic banyak sekali kategori dan penyesuaian difabel yang mereka miliki.

READ  Baru Bergerak, NPCI Kota Malang Buka Mata Tuk Jaring Calon Atlet Difabel (Part II)

Sebelum berakhir dengan cabang olahraga disabilitas tuna daksa, Oddie sempat diikutkan seleksi tim badminton atlet normal namun dirinya ditolak. Kemudian orang tua beserta pihak NPCI yang mewadahi Oddie mencarikan perlombaan yang khusus untuk komunitas teman-teman difabel. Tangan bersambut, di salah satu Gor section akan mengadakan perlombaan cabang badminton dengan kategori disabilitas. Mendengar hal baik ini pelatihnya lantas langsung mendaftarkan Oddie dan memberi tahu orang tua Oddie, bahwa ada himpunan yang menaungi kompetensi Oddie dan para atlet difabel lainnya. Oddie akhirnya bertemu dengan komunitas NPCI (Nasional Paralympic Committee Indonesia) cabang malang yang akan menjadi wadahnya berdedikasi. 

Oddie Memulai debutnya di pekan olahraga daerah yang bertempat di Samarinda, Kalimantan Timur saat itu Oddie berusia masih duduk dibangku kelas enam SD. Di beberapa pertandingan Oddie masih sempat kali mengalami kegagalan, kegagalan ini sebenarnya hanya dari ketidakpercayaan diri Oddie melihat lawan tandingnya. Ada yang berusia lebih tua darinya, ada yang terlihat sangat prima dan semangat. Kegagalannya hanya terbatas oleh batinnya, padahal Oddie selalu berlatih nonstop setiap kali akan bertanding. Sekali merasa gagal, Oddie tak mau berlama-lama di posisi tersebut. Ia semakin banyak mengikuti perlombaan di luar kota, mulai dari Porprov Riau potensi Oddie kian hari kian meningkat. Di tahun 2013 Oddie memasuki perlombaan Badminton championship di Kota Solo, Oddie berhasil mengalahkan juara kelas dunia asal Malaysia, Polandia, dan Singapura. Tak tanggung-tanggung Oddie bahkan sempat mengalahkan juara bertahan lokal yang sekarang menjadi pelatihnya.

Jembatan kesuksesan ternyata masih terhampar dihadapan Oddie, tahun 2014 ia dipanggil untuk melengkapi tim badminton putra untuk Asian Para Games di Korea Selatan. Saat itu Oddie sulit mendapatkan persetujuan orang tua, lantaran Oddie telah memiliki pekerjaan tetap di produksi kebun teh. “Orang tua bilang, kalau ada pekerjaan tetap kenapa masih berharap dengan menjadi atlet.. seperti orang tua pada umumnya mereka ingin saya pilih hal yang pasti-pasti saja,” ujarnya. Mengingat dulu wadah NPCI belum sebesar sekarang, semakin membuat orang-orang disekelilingnya berharap Oddie tak berharap dengan profesi atlet yang belum tentu dijamin finansialnya jika gagal dalam pertandingan.

READ  Gregoria Harapan Baru Indonesia di Badminton Sektor Tunggal Putri

Pertengahan tahun 2014 nama NPCI makin terang benderang, kala itu Oddie memutuskan untuk tetap menjalankan hobi kesukaannya tersebut. Kelar menyelesaikan pertandingan dengan mengantongi kemenangan, Oddie kemudian diberi imbalan yang cukup menggiurkan, ia mendapatkan bonus sebesar 90 juta. Akhirnya Oddie berhasil mendapatkan kepercayaan orang tuanya kembali. Oddie menambahkan bahwa saat ini untuk skala nasional NPCI sudah banyak mendapatkan nama dan atlet-atlet didalamnya tak mengalami perbedaan sedikitpun bahkan, untuk imbalan maupun jenis porsi latihan.

Meski masih merasa minder dengan kondisi tangan kanan, untungnya motivasi dari orang-orang disekitarnya selalu merangkul Oddie. Tak mudah baginya untuk melepaskan belenggu rasa malu, tetapi sedikit demi sedikit ia berhasil menanamkan rasa perjuangan dalam dirinya. Oddie berhasil bersahabat dengan batin tak hanya itu, kini Oddie dapat membuang segala stigma dan persepsi orang-orang disekelilingnya yang masih memandang rendah perbedaan yang dimilikinya.

Ruang pembuktian diri Oddie sebagai penyandang disabilitas semakin ditunjukan oleh dirinya lewat Asian Para Games, Oddie menyebut bahwa pertandingan saat itu menjadi momen Gong bagi dirinya. Pertandingan Asian Para Games menjadi puncak bagi Oddie membuktikan rasa profesionalitas dalam dunia olahraga. Perasaan lelah dan rasa sakit tak pernah lepas dari perjuangan di pertandingan tersebut, untuk pertandingan itu Oddie menyisihkan waktu empat hari berturut-turut selama seminggu untuk mengoptimalkan performanya. “Saya mendapat kabar bahwa yang berhasil memenangkan kejuaraan di Asian Para Games akan mendapatkan bonus rumah dan dijadikan pegawai sipil di Kemenpora.. mendengar hal tersebut, menjadi lecutan buat saya untuk tetap semangat dan memenangkan pertandingan saat itu,” tambahnya. Lewat pertandingan Asian Para Games, Oddie berhasil mendapatkan medali perak dan medali perunggu. Oddie menegaskan fasilitas dan apresiasi yang di dapat dari negara tak ada perbedaan atau ketimpangan antara atlet normal dan atlet disabilitas.

Bahkan dalam dunia pendidikan, atlet disabilitas juga masih bisa mendapatkan beasiswa dari perlombaan yang berhasil dijuarai. Kini atlet disabilitas kini tak bisa dipandang sebelah mata, dunia telah mengangkat perlombaan khusus bagi mereka yang memiliki keistimewaan. Atlet disabilitas asal Malang ini mengajak para disabilitas agar terus bersemangat melampaui batas dan Oddie berharap teman-teman disabilitas dapat mengembangkan potensi diri agar dapat bersaing untuk mendulang prestasi. Bagi Oddie peran orang tua sangat penting membantu anak-anak menggali potensi diri terkhusus bagi para penyandang disabilitas.

READ  Anthony Ginting: Guatemala Membeku, Garuda Mencuri Perunggu

Sekarang Oddie telah sampai di titik yang memposisikan dirinya sebagai Ketua Umum Pengurus NPCI. Dari segala harapannya Oddie ingin menemukan banyak bibit baru dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk mengharumkan nama orang-orang disekelilingnya. Salah seorang gadis remaja berumur 15 tahun berhasil ditemukan oleh Oddie, namanya Sherly bibit baru yang dipupuk oleh Komunitas NPCI. Sherly berasal dari keluarga biasa yang bertempat tinggal di hamparan rumah padat penduduk, pertemuannya dengan Komunitas NPCI dijembatani oleh Bude Sherly yang juga ikut serta dalam kepengurusan NPCI.

Sama halnya dengan Oddie, Sherly sempat berada di fase minder tak tak percaya diri. Ditambah lagi dengan karakternya yang pendiam dan sulit memulai obrolan terlebih dahulu. Perjalanan cerita sherly mengikuti perlombaan paralympic badminton di provinsi didorong oleh Budenya sementara orang tua Sherly tak memaksakan kehendaknya. Alhasil Sherly yang semakin dipancing oleh orang-orang sekitarnya berhasil membuahkan hasil, Sherly kini terbiasa membuka diri, dan setiap hari melakukan latihan badminton di salah Hidden Gor di daerah Blimbing, Malang. Saat ini Sherly dipersiapkan untuk mengikuti perlombaan paralympic se-Malang Raya yang akan diadakan oleh Disporapar Malang pada Juli mendatang.

Oddie Kurnia dan Sherly menjadi satu gambaran bahwa penyandang disabilitas tak memiliki kekurangan. Mereka dititipkan sebuah keistimewaan yang menghantarkan kedua nya bertemu dengan peluang. Bagian istimewa dari atlet disabilitas justru tak disadari oleh kebanyakan orang. Perlombaan bagi atlet penyandang disabilitas justru mengemukakan titik sulit. Dimana mereka memperlihatkan bahwa dengan kekurangan yang dimiliki atlet disabilitas tetap bisa bergerak dan berkompetisi layaknya orang normal. Bahkan perlombaan olahraga disabilitas lebih terlihat rumit tapi, para atlet membuktikan bahwa bagian diri mereka tidak memiliki kekurangan sedikit pun. Melainkan kekurangan itu menjadi sebuah peluang besar. Oddie Kurnia dan Sherly adalah dua diantara banyak disabilitas yang berhasil mengalahkan stigma di masyarakat dan berhasil membuktikan bahwa tak ada perbedaan yang berarti bagi mereka untuk unjuk gigi. 

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait