Baru Bergerak, NPCI Kota Malang Buka Mata Tuk Jaring Calon Atlet Difabel (Part II)

Dipublikasikan oleh Sahwahita
Reading Time: 4 minutes

Ketika wawancara dengan ketua NPCI Kota Malang.

Umpanbalik.idNational Paralympic Committee Indonesia (NPCI) juga telah terbentuk di Kota Malang, Jawa Timur. Tahun 2021 di Kota Malang menjadi awal pergerakan organisasi ini yang berdedikasi untuk mewadahi para atlet difabel yang mempunyai banyak keistimewaan. Sebelum terbentuk  NPCI, sebenarnya sudah ada organisasi yang menaungi para atlet difabel yaitu Yayasan Olahraga Penyandang Cacat (YPOC) yang kemudian berubah menjadi Badan Olahraga Penyandang Cacat (BPOC). Alasan perubahan tersebut karena ketika masih menjadi yayasan, olahraga yang dilakukan oleh atlet difabel hanya sebatas sebagai olahraga rekreasi atau hiburan yang belum bisa masuk ke sebuah kompetisi. Selain itu, kata ‘cacat’ juga tidak diperbolehkan untuk dipakai lagi.

Sebelum tahun 2015, NPCI masih menjadi cabang olahraga di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Namun setelah diadakannya rapat nasional luar biasa pada tahun 2015, dengan persetujuan dari Kemenkumham dan Kemenpora, maka NPCI resmi berpisah dengan KONI, dan sampai saat ini tingkatannya sejajar dengan KONI. Karena itu, sekarang kegiatan NPCI juga mendapat pendanaan resmi dari pemerintah pusat.

Khusus di Kota Malang sendiri, NPCI belum mempunyai data pasti terkait dengan jumlah atlet difabel yang berada di sini. Karena baru berjalan tiga bulan yang lalu dengan kepengurusan yang baru, saat ini NPCI masih melakukan penjaringan data untuk mengetahui seberapa banyak atlet difabel resmi dalam setiap cabang olahraga.

Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang juga menuturkan hal yang sama dengan itu. “Saat ini kami masih mencari data karena akan diadakannya regenerasi atlet difabel purna menjadi atlet difabel dengan data yang baru. Langkah pertama yang telah kami lakukan adalah satu bulan yang lalu, sudah mengikuti pelaksanaan Pekan Paralimpik Nasional di Surabaya,” tutur Rudi sebagai anggota Dispora Kota Malang.

READ  Keistimewaan Jadi Peluang, Mengenal Oddie Kurnia dan Sherly Si Atlet Difabel (Part III)

Kemudian untuk melanjuti langkah tersebut, pada bulan Juli 2021 nanti, Disporapar Kota Malang juga sudah merencanakan untuk membuat Kejuaraan Kota khusus atlet difabel bersama NPCI. Saat ini, masih terus dilakukan pencarian atlet difabel  baru untuk dibina agar para atlet juga bisa berprestasi lebih tinggi lagi di kancah olahraga.

Tugas utama dari NPCI sendiri adalah sebagai wadah keolahragaan penyandang disabilitas untuk membentuk kepribadian dan berperan serta dalam pembangunan nasional melalui kegiatan olahraga. Namun, Disporapar juga bergerak aktif untuk membantu keberlangsungan organisasi tersebut agar terciptanya atlet difabel yang unggul dan mumpuni untuk melakukan kompetisi yang lebih luas lagi. Disporapar Kota Malang menjadi mitra yang turut menaungi, membina, dan memberi anggaran dana terhadap event yang dilakukan oleh NPCI. 

 

Fasilitas Atlet Difabel di Kota Malang

Karena baru berdiri tegak sebagai NPCI beberapa bulan yang lalu, fasilitas khusus atlet difabel pun masih belum tersedia di Kota Malang. Sementara ini, kesediaan tempat masih menggunakan tempat yang sama dengan atlet biasa. Penggunaan lahan pun menurut Disporapar masih bisa menggunakan lahan yang sama dengan atlet biasa. Namun penggunaannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan atlet difabel, seperti misalnya mempersempit jarak dan menerapkan aturan sendiri.

“Rencananya akan dibuatkan sekretariatnya di Gor Ken Arok, nantinya juga akan ada gedung untuk latihan atlet disabilitas, dan pengelolaan lapangan di Taman Gayam untuk lintasan lari,” kata Farida, sekretaris bidang olahraga Disporapar Kota Malang menjelaskan rencana kedepannya untuk fasilitas NPCI Kota Malang.

NPCI Kota Malang pun membenarkan hal tersebut. Saat ini fasilitas yang disediakan adalah diperbolehkannya penggunaan Stadion Gajayana dan Kolam Renang Gajayana milik Pemerintah Kota Malang sebagai tempat latihan atlet difabel. Sebenarnya untuk atlet difabel sendiri sangat diperlukan peralatan khusus agar bisa mendukung latihan para atlet secara maksimal. Alat-alat tersebut antara lain papan catur braille, kursi roda balap, kursi roda badminton, boncia ball, atau untuk cabang atletik lempar tuna daksa lower, perlu adanya kursi lempar. 

READ  Sejarah Paralympic, Gebrakan Stereotipe Penyandang Disabilitas (Part I)

Namun saat ini NPCI Kota Malang juga sudah mengajukan usulan untuk ketersediaan alat-alat tersebut kepada Pemerintah Kota Malang dengan tembusan dari Disporapar. Gebrakan kedepan yang sekarang masih diutamakan oleh Disporapar dan NPCI adalah terus melakukan pendataan jumlah atlet difabel agar bisa dilakukan pembinaan prestasi sesegera mungkin untuk atlet difabel agar bisa berkembang lebih baik lagi sesuai dengan harapan.

 

Sistem Perekrutan Atlet Difabel Kota Malang

Terdapat perbedaan rekrutmen antara atlet biasa dan atlet difabel. Jika biasanya atlet normal melakukan pendaftaran secara mandiri dengan organisasi atau sekolah olahraga, keberadaan atlet difabel harus dihampiri oleh NPCI sendiri. “Biasanya, keluarga yang mempunyai anak difabel cenderung menutup diri dan menyembunyikan anaknya karena keterbatasan. Itulah yang membuat sulit ada regenerasi atlet difabel baru,” ungkap Didik, seorang pengurus NPCI Kota Malang menjelaskan tentang kendalanya menemukan keberadaan calon atlet.

Para pengurus NPCI Kota Malang sengaja memasang mata dan mendengar lebih jeli lagi untuk menemukan calon atlet difabel. Pernah suatu ketika, menurut penuturan Oddie Kurnia selaku ketua baru NPCI Kota Malang, ketika bertemu dengan ibu dan anak difabel di supermarket, maka ia mendekati anak tersebut dan melakukan penjelasan singkat tentang NPCI. Jika yang ditemui ini berminat untuk mendengarkan, maka dari pihak NPCI akan melakukan pertemuan lebih lanjut untuk membicarakan tentang prosedur kedepannya.

Cara lain yang dilakukan oleh NPCI Kota Malang untuk menjaring calon atlet difabel antara lain memberikan surat ke kecamatan, paguyuban komunitas orang difabel, yayasan penyandang anak cacat, atau sekolah luar biasa untuk diminta data warga atau anak didiknya. Dari tempat-tempat tersebut biasanya terdapat beberapa anak yang memiliki ketertarikan untuk berkecimpung di bidang olahraga.

READ  Sejarah Paralympic, Gebrakan Stereotipe Penyandang Disabilitas (Part I)

Kualifikasi perekrutan dari calon atlet difabel belum diterapkan standar pastinya, yang dipentingkan adalah keinginan dari pribadi sendiri untuk berolahraga. Walaupun tidak mempunyai keterampilan sama sekali, NPCI Kota Malang siap untuk mewadahi dan membina. Nantinya akan dilihat keinginan dan keterampilan yang dimiliki oleh anak tersebut untuk diberi pelatihan yang lebih khusus lagi sesuai dengan cabang olahraga pilihannya masing-masing.

Atlet difabel sebenarnya harus memiliki pelatih khusus sesuai dengan keadaan para atlet. Karena kondisi atlet yang berbeda, penanganannya harus dilakukan dengan cara yang berbeda juga. Seperti misalnya atlet dengan gangguan intelektual, maka diperlukan pelatih yang dapat mengontrol mental atlet tersebut selama latihan sampai kompetisi. Di Kota Malang sendiri pelatih antara atlet difabel dan atlet biasa masih disamakan. Tetapi, ketua NPCI Kota Malang, Oddie Kurnia  yang juga seorang atlet difabel internasional, juga turut berpartisipasi untuk melatih calon atlet difabel. 

 

Prestasi dari Oddie Kurnia pun sangat gemilang. Bagaimana kisah perjuangan dari Oddie Kurnia? Simak di artikel selanjutnya.

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait