Sejarah Paralympic, Gebrakan Stereotipe Penyandang Disabilitas (Part I)

Dipublikasikan oleh Sahwahita
Reading Time: 4 minutes

Sumber: Gettyimages. Atlet tuna daksa lower difabel ketika bertanding menggunakan kursi roda.

Umpanbalik.id – Paralimpiade, sebuah fenomena yang mampu mengubah persepsi kita tentang dunia. Bahwa semua manusia tidak ada yang standar, atau sekadar biasa saja. Banyak dari kita yang mampu melewati taraf spesial. Paralympic lah tempat untuk para atlet difabel menunjukan prestasinya di bidang olahraga. Seperti yang tertulis di jurnal universitas sebelas maret, paralympic adalah sebuah olimpiade kejuaraan olahraga untuk para penyandang difabel dari berbagai jenis klasifikasi.

London adalah tempat suka dan duka paralympic. Negara pencipta gerakan paralympic, melawan stereotip, dan menggebrak mata dunia dengan sebuah perhelatan besar. Paralympic lahir di Inggris dari tangan seorang ahli bedah saraf dan ahli ilmu mengenai saraf, yaitu Ludwig Guttmann. Ludwig Guttmann pada saat itu ditugaskan menjadi direktur rumah sakit Stoke Mandeville yang menangani pasien cedera tulang belakang. Guttmann melihat para veteran-veteran perang yang sakit dan menderita cacat tubuh yang tidak bisa apa-apa, bahkan para mereka terlihat seperti sedang menunggu kematian di depan mata.

Setelah masa kepemimpinan Hitler yang bengis di Jerman, Guttmann sebagai seorang dokter hanya boleh bekerja untuk Yahudi. Pada tahun 1944 Guttmann mendirikan pusat penanganan orang-orang cacat di rumah sakit Mandeville. Setiap hari dia melakukan observasi terhadap para tentara yang merasa putus asa karena hanya bisa berbaring ditempat tidur tanpa bergerak. Guttmann menyatakan bahwa para veteran tersebut masih bisa bergerak, dan menyuruh para perawat untuk memindahkan para pasien. Guttmann menyuruh para pasien untuk melempar dan menangkap sebuah bola yang berukuran seperti bola tenis.

Dikutip dari faktualnews.co, Guttmann bertekad bahwa orang yang cacat atau berkebutuhan khusus seharusnya tidak tersisihkan dan masih bisa menunjukkan kemampuan lain untuk berkontribusi kepada masyarakat. Guttman pun melihat bahwa olahraga pada saat itu sebagai kunci rehabilitasi cedera tulang belakang.

READ  Keistimewaan Jadi Peluang, Mengenal Oddie Kurnia dan Sherly Si Atlet Difabel (Part III)

Kemudian lambat laun hal ini berkembang menjadi olahraga rekreasi yang pada akhirnya menjadi sebuah kompetisi. Dikutip dari jurnal universitas sebelas maret, pada tahun 1948 Ludwig membentuk sebuah pertandingan olahraga pertama kali untuk para pasiennya di Stoke Mandeville. Pertandingan Olahraga tersebut diberi nama Stoke Mandeville Games, dan olahraga yang dipertandingkan adalah olahraga memanah. Secara bertahap akhirnya olahraga yang dipertandingkan semakin banyak yaitu atletik, bola basket, anggar, snooker, tenis meja dan renang. Pada tahun 1954 paralympic dipertandingkan secara Internasional dengan peserta dari negara Belanda.

Dikutip dari kumparan.com, tahun 1960 merupakan titik awal dari paralympic game dibentuk dan di selenggarakan di Roma untuk pertama kalinya diikuti 400 atlet dari 23 negara. Ketika tahun 1988 paralympic games diselenggarakan di kota yang sama dengan olympic game di Seoul, Korea Selatan. IPC dan IOC pada tahun 2001 sepakat dan menyatakan bahwa kota tempat penyelenggaraan olympics game juga harus digunakan untuk paralympics games. Kesepakatan antara IPC dan IOC tersebut sampai saat ini masih berjalan.

Berkat dr. Ludwig Guttmann, seseorang yang mengalami kecelakaan atau sakit sampai menderita kelumpuhan masih bisa memulihkan kepercayaan dan keyakinan dirinya melalui kejuaraan paralympic. Ketika paralympic di London tahun 2012, para atlet difabel yang mengikuti kejuaraan ini semakin bertambah dan paralympic mulai diakui sebagai olahraga elit para atlet difabel baik itu laki-laki maupun perempuan. Terdapat 165 negara dan 4.200 atlet yang ikut berpartisipasi di paralympic London 2012.

Saat itu, kehebohan terjadi di mana-mana. Banyak atlet yang masih khawatir apakah stadion tempat bertanding akan sesak dipenuhi penonton atau malah menjadi tempat paling sunyi di dunia. Namun, pilihan pertama menjadi takdirnya. Harapan akan penuhnya stadion terlihat nyata ketika pertandingan akan dimulai. Sorak sorai ribuan manusia memenuhi udara di dalam stadion. Bahkan, di pinggir-pinggir jalan Inggris terdapat sebuah papan reklame hitam bertuliskan, “Thank’s for the Warming Up.” yang bermaksud untuk mendukung olimpiade paralympic ini.

READ  Baru Bergerak, NPCI Kota Malang Buka Mata Tuk Jaring Calon Atlet Difabel (Part II)

Di Indonesia, paralympic diselenggarakan setiap empat tahun setelah olimpiade, dan diatur oleh Komite Paralimpiade Internasional atau IPC. The International Paralympic Committee (IPC) adalah organisasi yang menaungi kegiatan olahraga penyandang cacat di seluruh dunia. Olahraga resmi yang dipertandingkan di IPC (International Paralympic Committee) yaitu sebanyak 26 cabang olahraga.

IPC selalu menyelenggarakan event olahraga tersebut sebanyak dua kali yaitu paralympic musim panas dan musim dingin. IPC memiliki sebuah komitmen dimana mereka akan mendampingi para atlet penyandang cacat atau biasanya disebut sebagai paralympic untuk mencapai prestasi olahraga dan membuka kesempatan untuk para difabel untuk membuktikan prestasinya dari tingkat pemula sampai ke tingkat elit. IPC berdiri pada tahun 1989 di Dusseldorf, Jerman tepatnya pada tanggal 22 September. Saat ini kantor pusat IPC terletak di Bonn, Jerman dan beranggotakan 162 National Paralympic Committee (NPC).

Dikutip dari kompaspedia, Organisasi Olahraga Penyandang Disabilitas Indonesia pertama kali berdiri di Surakarta pada tanggal 31 Oktober 1962. Pada saat itu organisasi ini bernama YPOC atau yayasan pembina olahraga cacat. Dalam musyawarah olahraga nasional yang diselenggarakan pada tanggal 31 Oktober – 1 November 1993 di Yogyakarta, nama YPOC berubah menjadi Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC). Pada tahu 2010 BPOC kembali berubah nama menjadi NPC karena regulasi Internasional tidak diperkenankan untuk menggunakan istilah cacat dan mewajibkan menggunakan kata Paralympic didalamnya.

Ajang pertandingan olahraga Paralympic untuk tingkat Nasional di Indonesia disebut dengan PEPARNAS atau Pekan Paralympic Nasional yang selalu diselenggarakan bersamaan dengan PON (Pekan Olahraga Nasional). Peparnas ajang yang diikuti para olahragawan difabel untuk pembuktian prestasi berskala Nasional. Para atlet mewakili provinsi dan sekaligus NPC pengprov masing-masing daerah. kebanyakan masyarakat awam belum begitu mengenal dan mengetahui event PEPARNAS ini, padahal event ini diselenggarakan bersamaan dengan event Pekan Olahraga Nasional. PON di Indonesia dibilang sudah sangat familiar di kalangan masyarakat berbeda dengan PEPARNAS yang masih jarang orang mengetahui apa itu PEPARNAS.

READ  Keistimewaan Jadi Peluang, Mengenal Oddie Kurnia dan Sherly Si Atlet Difabel (Part III)

Peparnas di Indonesia sudah diselenggarakan sebanyak 15 kali, dan event yang ke 16 akan diselenggarakan di provinsi papua yang akan datang. Di Indonesia sendiri masih belum bisa memperlombakan 26 cabang olahraga yang ada di IPC. Indonesia saat ini membina 13 cabang olahraga, NPC Indonesia terus berusaha untuk selalu menambah minimal 1 cabang olahraga di setiap penyelenggaraan Peparnas. pada tahun 2004 dan 2008 Indonesia hanya memperlombakan 8 cabang olahraga Peparnas yaitu Atletik, Renang, Bulutangkis, Tenis Meja, Catur, Angkat Berat, Tenis lapangan kursi roda dan sepakbola. pada tahun 2012 Indonesia menambah 1 cabang olahraga Peparnas yaitu bola volly duduk. dan pada tahun 2016 Indonesia menambah 4 cabang olahraga di event Peparnas yaitu Judo, Goalball, Panahan, dan Tenpin Bowling.

Masyarakat awam mungkin banyak yang belum tahu dengan event kejuaraan Peparnas ini karena jarang disiarkan di televisi nasional. Biasanya tayangan di televisi hanya menyiarkan pertandingan event Pekan Olahraga Nasional, namun hanya cabang populer saja yang ditayangkan  seperti pertandingan sepak bola, bulutangkis, dan futsal.

Lantas, bagaimana perkembangan organisasi ini di daerah Indonesia, khususnya di Kota Malang yang sudah mempunyai atlet difabel Internasional? Simak konten liputan khusus ini dalam artikel selanjutnya.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait