Ketika Sisi Kemanusiaan Hadir di tengah Peristiwa Kolaps-nya Christian Eriksen

Dipublikasikan oleh Anneke Puteri
Reading Time: 5 minutes

Sumber: AP/Friedemann Vogel. Ketika Tim Medis dan Pemain Denmark membawa Christrian Eriksen Menuju Ambulance.

Umpanbalik.idPertandingan penuh ambisi sangat terasa saat dua klub sepak bola bertarung sebagai rival. Bukan soal huru-hara atau kefanatikan suporternya, nyatanya sepak bola tidak hanya sekedar olahraga. Namun kental juga dengan sisi kemanusiaan dan penghormatan antar manusia di dalam stadionnya. 

sumber: pandit football. Joakim Memanggil Tim Medis untuk Eriksen.

Dua hari yang lalu, pertandingan Denmark vs Finlandia di ajang EURO 2020 diwarnai dengan insiden yang menyesakkan hati. Christian Eriksen seorang gelandang dari klub Italia Inter Milan tiba-tiba kolaps, jatuh tersungkur di atas lapangan ketika menit-menit terakhir pertandingan. Tidak menunggu lama, Joakim Mahle sebagai rekan satu timnya bertindak sangat cepat untuk memanggil tim medis. 

sumber: pandit football. Saat Kjaer, Kapten Tim Melakukan Pertolongan Pertama pada Christian Eriksen yang Kolaps di tengah Pertandingan.

sumber: panditfootball. Kjaer Memberi Arahan kepada Timnya.

Hitungan detik, rekan-rekan pemain menyadari bahwa telah terjadi insiden pada Eriksen. Momen kapten timnas Denmark, Simon Kjaer menjadi sorotan karena telah berhasil membuktikan kepiawaiannya serta kemanusiaannya dalam menangani insiden tersebut. Ia bergerak cepat untuk melakukan pertolongan pertama pada Eriksen. Kjaer membalikkan posisi badan dan memastikan lidah Eriksen tidak menyumbat saluran pernapasan sebelum tim medis tiba.

sumber: panditfootball. Tim Denmark membentuk barikade.

sumber: panditfootball. Kjaer menenangkan istri Eriksen.

Selain itu, Kjaer juga bergerak cepat memanggil anggota tim untuk membentuk barikade agar proses recovery Eriksen tidak menjadi santapan lezat media. Lalu meminta tim agar bisa menenangkan istri Eriksen yang menangis karena khawatir dengan kondisi suaminya. Di sisi lain, Kasper Schmeichel langsung menghampiri istri Eriksen dan wasit pertandingan, Anthony Taylor langsung menghentikan permainan. Simon Kjaer menjadi pahlawan penyelamat pertama bagi Christian Eriksen.

Sumber: Sporcope. Ketika Tim Denmark dan Bendera Finlandia Melindungi Eriksen.

Momen solidaritas juga terpancar dari para pemain Denmark yang membentuk barikade di sekitar Eriksen dengan dikelilingi oleh sebuah kain putih biru. Ternyata kain itu adalah bendera dari tim lawan yaitu Finlandia. Ketika itu, salah satu penggemar dari Finlandia turun ke lapangan untuk memberikan bendera besarnya agar bisa menutupi kondisi Eriksen dari media. Sekali lagi, sepak bola mampu mengubah rivalitas menjadi momen untuk saling respek.

READ  CR7, Menghapus Mimpi Buruk atau Menjadi Mimpi Buruk?

Karena kondisinya yang serius, suasana di stadion sempat mencekam beberapa saat. Lapangan hijau mendadak kosong di sebagian besar sisi dan suporter dua tim harap-harap cemas dengan kondisi Eriksen. Stadion kembali menggema ketika Eriksen dibopong menuju ambulan, dan para pemain beralih menuju ruang ganti.

Suporter tim Finlandia meneriaki nama Christian yang kemudian disambung dengan tim Denmark dengan meneriaki Eriksen.

Ketika Christian Eriksen jatuh tiba-tiba, tim medis Denmark dengan sigap melakukan pertolongan pertama dengan melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) agar bisa mengembalikan denyut jantung, saluran pernapasan, dan juga sirkulasi darah. Hal tersebut dilakukan karena denyut jantung Eriksen yang semakin melambat.

Dikutip dari Sport.detik, dokter Tim Denmark, Morten Boesen menjelaskan kondisi Eriksen kepada AP, “Dia bernapas, dan saya bisa merasakan denyut jantungnya. Namun, tiba-tiba hal itu berubah. Dan seperti yang disaksikan semua orang, kami mulai memberikan CPR. Kami mampu mendapatkan Christian kembali dan dia sudah bisa berbicara dengan saya sebelum dia dibawa ke rumah sakit.”

Akhirnya, pertandingan Denmark vs Finlandia dihentikan sementara dan dilanjut beberapa jam kemudian dengan skor 0-1 dengan kekalahan dari Denmark. Walaupun tidak berhasil memenangkan pertandingan, pelatih Denmark Kasper Hjulmand tetap mengapresiasi dan memaklumi para pemainnya usai insiden Eriksen. 

“Tentu saja Anda tidak bisa memainkan sebuah pertandingan dengan perasaan seperti itu. Apa yang kami coba lakukan itu luar biasa. Luar biasa karena para pemain mampu keluar dan berusaha memainkan pertandingan babak kedua,” kata Kasper Hjulmand yang dikutip dari Sport.detik.

Kritik Sosial terhadap Tim Medis Sepak Bola Indonesia

Ketika tim medis dan respon pemain luar negeri dielu-elukan, para penggemar sepak bola dari Indonesia langsung merefleksikan performa tim medis klub sepak bola Indonesia. Salah satunya pada postingan Twitter di akun @/MafiaWasit yang mendapat 1,4 ribu likes, 105 komentar, dan 682 retweet.

READ  Matt Stutzman dan Kaki Piawainya

Untung Eriksen bukan main di Timnas Indonesia. Kalau ini kejadian di sini pasti cuma diangkat perutnya doang. PSSI harus nambah regulasi lagi dari kejadian ini, sebelum kick off liga, wajib ada workshop penanganan pertama pada insiden seperti ini dengan peserta panpel dan pemain,” katanya melalui cuitan tersebut.

Netizen beramai-ramai menyetujui hal itu dengan berkata bahwa tim medis Indonesia, apapun cederanya mayoritas hanya mengangkat perut atau meluruskan kaki tanpa adanya prosedur medis yang jelas. Para penggemar Indonesia mengeluhkan basic life support yang belum dipahami oleh para tim medis atau pemain sepak bola di Indonesia.

Salah satu kenangan yang masih terbayang sampai sekarang adalah insiden Choirul Huda, kiper dari Persela yang meninggal setelah kepalanya terbentur keras dengan pemain timnya. Saat itu, tim medis kurang bertindak profesional karena langsung mengangkat Choirul Huda ke tandu dan membopongnya keluar lapangan, sampai keadaan pingsan. Padahal, jika terjadi benturan keras, tindakan harus segera dilakukan di tempat kejadian.

Menurut jurnal ilmiah berjudul Prevalensi Penanganan Cedera pada Pemain Sepak Bola Persidi, pingsan setelah shock akibat benturan menyebabkan gagalnya sirkulasi darah yang berfungsi mengantarkan oksigen. Karena, adanya benturan ini juga bisa menyebabkan seseorang hilang kesadaran yang berujung pada melemasnya otot-otot di tubuh, termasuk otot lidah. Jika lidah ini bergeser ke belakang dan menghalangi saluran pernapasan, maka pasokan udara ke paru-paru akan terhambat. Hal ini yang masih miss dilakukan tim medis pada saat menangani Choirul Huda, dan malah memperlambat proses penyelamatan.

Maka dari itu, sikap profesional dari tim medis dan respon para pemain ketika menolong Christian Eriksen harus dijadikan panutan serupa pada saat pertandingan. Realitanya, di atas rivalitas sepak bola, masih ada kepedulian, solidaritas, dan kemanusiaan yang harus selalu berjalan beriringan.

READ  Starter Pack ala Anak Futsal

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on print
Cetak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Popular Posts
Komentar Terbaru
Sahwahita: Bener banget, Sobat ...
agam_ray: Wah ngeriiiik bgt...
Sahwahita: ia sobat sport, masi...
Sahwahita: Terima Kasih sobat s...
Sahwahita: terima kasih sobat s...
Sahwahita: benar banget sobat s...
Agung Fajar Pribadi: Skill individu pemai...
Risca Nabella: Info begini sangat m...
Hikmah: Wow baru tau, banyak...
wilda: Baru tau ada begini ...
joon: benar bangettt...
Avi Sena: Club sepakbola perem...
Avi Sena: Penalti Panenka mema...
Avi Sena: cukup dengan satu ci...
Fianda Briliyandi: Artikel yang bagus, ...
Hikmah: Aku tim lari pagi si...
Hikmah: Baru tau aku macam2 ...
Hikmah: Taufik dulu emang an...
Lisa: Keren banget! Bener ...
A WordPress Commenter: Hi, this is a commen...
Semua Hashtag

Post Terkait